<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Fiqh Archives - Darussalam Asy Syafii</title>
	<atom:link href="https://darussalam.or.id/category/fiqh/ilmu-fiqh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://darussalam.or.id/category/fiqh/ilmu-fiqh/</link>
	<description>Pusat Pembelajaran Fiqh Madzhab Asy-Syafi&#039;i</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Sep 2026 22:01:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://darussalam.or.id/wp-content/uploads/2019/08/cropped-ds-icon-32x32.png</url>
	<title>Fiqh Archives - Darussalam Asy Syafii</title>
	<link>https://darussalam.or.id/category/fiqh/ilmu-fiqh/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Anak Terlantar di Jalanan dan Orang Gila Wajib untuk Diambil, Benarkah?</title>
		<link>https://darussalam.or.id/2026/09/anak-terlantar-jalanan-dan-orang-gila-wajib-untuk-diambil-benarkah/</link>
					<comments>https://darussalam.or.id/2026/09/anak-terlantar-jalanan-dan-orang-gila-wajib-untuk-diambil-benarkah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2026 13:08:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://darussalam.or.id/?p=2671</guid>

					<description><![CDATA[<p>Barangkali kita cukup mengernyitkan dahi ketika membaca judul tersebut. Benarkah jika di negeri kaum muslimin ada anak terlantar di jalan</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/09/anak-terlantar-jalanan-dan-orang-gila-wajib-untuk-diambil-benarkah/">Anak Terlantar di Jalanan dan Orang Gila Wajib untuk Diambil, Benarkah?</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1">Barangkali kita cukup mengernyitkan dahi ketika membaca judul tersebut. Benarkah jika di negeri kaum muslimin ada anak terlantar di jalan kemudian juga orang gila di tepi jalan wajib diambil kemudian dirawat dan dipelihara oleh kaum muslimin?</p>
<h3>Anak Terlantar dan Orang Gila = Laqith?</h3>
<p class="p1">Perlu diketahui bersama bahwa di Fiqih Islam ada suatu pembahasan yang menyangkut anak terlantar dan orang gila ini. Bab yang membahas hal tersebut adalah Laqith (اللقيط). Lalu apakah yang dimaksud dengan Laqith ini?</p>
<p class="p1">Di dalam kitab مؤنس الجليس بشرح الياقوت النفيس في مذهب ابن إدريس juz 2 halaman 88 disampaikan makna Laqith:</p>
<p class="p2" dir="rtl">وهو شرعا صبي أو صبية ولو مميزين أو مجنون ولو بالغا مطروح على أبواب المساجد و نحوها و لا كافل له أصلا أو لا كافل له معلوم من أب أو جد أو وصي أو قيم</p>
<p class="p1"><i>Laqith secara syar&#8217;i adalah anak kecil baik laki-laki maupun perempuan (yang belum baligh) meskipun keduanya sudah mumayyiz (bisa makan sendiri, minum sendiri dan istinja sendiri) atau orang gila meskipun sudah baligh yang terlantar di pintu-pintu Masjid atau di tempat lainnya dan sama sekali tidak diketahui siapa yang bertanggung jawab atasnya atau tidak diketahui pihak tertentu yang bertanggung jawab atasnya entah itu ayah, atau kakek, atau pelaksana wasiat, atau qayyim (pihak yang ditunjuk penguasa untuk melaksanakan wasiat atau mengurus anak terlantar serta orang gila).</i></p>
<h3>Hukum Merawat Laqith</h3>
<p class="p1">Para ulama fiqih kemudian juga membahas hukum mengambil Laqith ini dalam kitab-kitab mereka. Masih dalam kitab, juz dan halaman yang sama disampaikan:</p>
<p class="p2" dir="rtl">حكم لقط اللقيط أي أخذه وكفالته الوجوب الكفائي : إن علم به أكثر من واحد</p>
<p class="p1"><i>Hukum mengambil Laqith serta menanggung dan menjamin hidupnya adalah wajib kifayah/fardhu kifayah atas kaum muslimin dengan catatan jika yang mengetahui Laqith itu lebih dari satu orang.</i></p>
<p class="p2" dir="rtl">فإن قام بلقطه أحدهم سقط الإثم عن الباقي وإلا أثم الجميع</p>
<p class="p1"><i>Sehingga jika ada salah seorang kaum muslimin yang mengambil Laqith dan menjamin hidupnya, maka gugurlah dosa atas kaum muslimin lainnya. Sedangkan jika tidak ada satupun kaum muslimin yang melakukan hal tersebut maka seluruh kaum muslimin berdosa!</i></p>
<p class="p2" dir="rtl">وإلا بأن لم يعلم به إلا واحد فقط فالتقاطه فرض عين عليه</p>
<p class="p1"><i>Sedangkan jika tidak ada yang mengetahui Laqith itu kecuali hanya satu orang saja, maka hukum mengambil Laqith itu menjadi fardhu &#8216;ain atas dirinya.</i></p>
<p class="p1">Dari keterangan ini kita dapat suatu informasi bahwa ternyata fardhu kifayah atas kaum muslimin bukan hanya terbatas pada mengurus dan menyelenggarakan jenazah saja! Namun masih banyak pula fardhu kifayah lainnya, diantaranya adalah mengambil Laqith serta menanggung dan menjamin hidupnya!</p>
<h3 class="p1">Lalu Apa Dalil Dan Argumentasi Hukum Fardhu Kifayah Dalam Bahasan Ini?</h3>
<p class="p1">Di dalam kitab إكمال التدريس بالتعليق على الياقوت النفيس في مذهب ابن إدريس juz 1 halaman 576 disampaikan:</p>
<p class="p2" dir="rtl">لقوله سبحانه و تعالى : وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا، إذ في ذلك حفظ للنفس المحترمة عن الهلاك لأنه آدمي محترم فوجب حفظه كالمضطر إلى طعام غيره بل أولى</p>
<p class="p1"><i>Dalilnya adalah firman Allah dalam Qur&#8217;an surat Al Maidah ayat 32: Dan siapa saja yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya. Karena pada aktivitas tersebut terdapat penjagaan terhadap jiwa muhtaram (jiwa yang tidak boleh dibunuh) dari kebinasaan. Dikarenakan manusia yang terjaga jiwanya inilah maka wajib betul-betul harus dijaga, sebagaimana kasus orang kelaparan yang terdesak untuk mengkonsumsi makanan orang lain dalam rangka menyelamatkan jiwanya, bahkan memelihara Laqith itu jauh lebih utama.</i></p>
<p class="p2" dir="rtl">ولأنه بإحيائه يسقط الحرج عن الناس فكأنه يحييهم بالنجاة من العذاب</p>
<p class="p1"><i>Dan karena dalam memelihara serta menjamin kehidupan Laqith itu akan menghilangkan kesusahan publik sehingga seakan-akan aktivitas memelihara Laqith tersebut menyelamatkan kaum muslimin dari adzab.</i></p>
<p class="p1">Demikianlah pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.</p>
<p class="p2" dir="rtl">والله تعالى أعلم بالصواب</p>
<p class="p1">Dirangkum oleh: Yurifa Iqbal (alumni Ma&#8217;had Darussalam Asy Syafi&#8217;i angkatan 3)<br />
Murajaah: Al Ustaz Abu Husain Agus Waluyo &#8211; Mudir Ma&#8217;had Darussalam Asy Syafi&#8217;i</p>
<p class="p1"><b>____</b></p>
<p class="p1"><i>Jadikan ilmu syar&#8217;i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi&#8217;i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis</i></p>
<p class="p1"><b> </b></p>
<p class="p1"><b>Yuk Segera Follow &amp; Pantau Media Kami:</b></p>
<p class="p2"><span class="s1"><i>Website: </i></span><i>darussalam.or.id<br />
</i><span class="s1"><i>Facebook: </i></span><i>fb.me/darussalam.or.id<br />
</i><span class="s1"><i>Instagram: </i></span><i>instagram.com/darussalam.or.id<br />
</i><span class="s1"><i>YouTube:  </i></span><i>youtube.com/mahaddarussalam<br />
</i><span class="s1"><i>WhatsApp: </i></span><i>bit.ly/WAdarussalam</i></p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/09/anak-terlantar-jalanan-dan-orang-gila-wajib-untuk-diambil-benarkah/">Anak Terlantar di Jalanan dan Orang Gila Wajib untuk Diambil, Benarkah?</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://darussalam.or.id/2026/09/anak-terlantar-jalanan-dan-orang-gila-wajib-untuk-diambil-benarkah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rincian Hukum Perlombaan dengan atau Tanpa Hadiah dalam Persfektif Fikih Islam</title>
		<link>https://darussalam.or.id/2026/08/hukum-perlombaan-dengan-atau-tanpa-hadiah-persfektif-fikih/</link>
					<comments>https://darussalam.or.id/2026/08/hukum-perlombaan-dengan-atau-tanpa-hadiah-persfektif-fikih/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2026 12:10:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://darussalam.or.id/?p=2661</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bulan Agustus identik dengan perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Ada bermacam-macam aktivitas yang dilakukan rakyat dalam mengekspresikan hari kemerdekaan Indonesia di</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/08/hukum-perlombaan-dengan-atau-tanpa-hadiah-persfektif-fikih/">Rincian Hukum Perlombaan dengan atau Tanpa Hadiah dalam Persfektif Fikih Islam</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Agustus identik dengan perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Ada bermacam-macam aktivitas yang dilakukan rakyat dalam mengekspresikan hari kemerdekaan Indonesia di bulan tersebut. Ada dengan memasang bendera, ada dengan upacara, dan ada juga dengan melakukan berbagai perlombaan.</p>
<p>Berkaitan dengan perlombaan atau pertandingan atau kompetisi maka ada beberapa hal yang perlu dipahami oleh kaum muslimin.</p>
<p>Perlombaan itu sendiri dalam bahasan fiqih Islam bisa dikatakan terbagi menjadi dua, yakni</p>
<ol>
<li>Perlombaan yang ada kaitannya dengan alat-alat perang dan persiapan perang.</li>
<li>Perlombaan yang sama sekali tidak berkaitan dengan alat-alat perang dan persiapan perang.</li>
</ol>
<h3></h3>
<h3><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f530.png" alt="🔰" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> A. Perlombaan Yang Ada Kaitannya Dengan Alat-Alat Perang Dan Persiapan Perang</h3>
<p>Perlombaan yang ada kaitannya dengan alat-alat perang dan persiapan perang maka diantara syaratnya adalah TIDAK DIPERBOLEHKAN MENGANDUNG UNSUR JUDI! Para ulama fiqih diantaranya Syafiiyah telah membahas hal ini dengan detail.</p>
<p>Syaikh Mustafa Abdun Nabi Abu Hamzah Asy Syafi&#8217;i di dalam kitab Mu&#8217;nisul Jalis Bi Syarhil Yaqut An Nafis Fi Madzhab Ibn Idris juz 2 halaman 467 &#8211; 468 cetakan Dar Adh Dhiya menyampaikan :</p>
<p>وَالشَّرْطُ الْحَادِي عَشَرَ: أَلَا تَكُونَ الْمُسَابَقَةُ قِمَارًا</p>
<p>Syarat kesebelas dalam aktivitas perlombaan yang ada kaitannya dengan alat-alat perang dan persiapan perang adalah TIDAK DIPERBOLEHKAN MENGANDUNG UNSUR JUDI!</p>
<p>Syaikh Mustafa Abdun Nabi kemudian melanjutkan penjelasan empat keadaan berkaitan dengan hadiah dalam perlombaan yang ada kaitannya dengan alat-alat perang dan persiapan perang ini. Ada yang boleh dan ada juga yang tidak diperbolehkan karena mengandung judi yang diharamkan dalam Islam. Berikut ini rinciannya.</p>
<p>الْأُولَى: أَنْ يَدْفَعَهُ شَخْصٌ غَيْرُ الْمُتَسَابِقِينَ، كَأَنْ يَتَسَابَقَ فَرِيقَانِ فِي الرَّمْيِ، وَيَدْفَعَ رَئِيسُ الدَّوْلَةِ الْجَائِزَةَ لِلْفَائِزِ مِنْهُمَا، وَهَذَا جَائِزٌ</p>
<p>1&#x20e3; Ada seseorang bukan peserta lomba yang menanggung hadiah, misalnya ada 2 regu yang berlomba memanah, sementara hadiah lomba ditanggung oleh kepala negara yang akan diberikan kepada pemenang. Gambaran lomba seperti ini hukumnya boleh.</p>
<p>وَالثَّانِيَةُ: أَنْ يَدْفَعَهُ أَحَدُ الْمُتَسَابِقِينَ، كَأَنْ يَقُولَ زَيْدٌ لِبَكْرٍ: نَاضَلْتُكَ عَلَى أَنْ يَرْمِيَ كُلٌّ مِنَّا عِشْرِينَ سَهْمًا، فَإِنْ أَصَبْتَ خَمْسَةً مِنْهَا .. فَلَكَ دِينَارٌ، وَإِنْ سَبَقْتُكَ .. فَلَا شَيْءَ عَلَيْكَ؛ فَيَقُولُ بَكْرٌ: قَبِلْتُ، وَهَذَا جَائِزٌ</p>
<p>2&#x20e3; Hadiah lomba ditanggung oleh salah satu pihak yang berlomba, gambarannya Zaid berkata kepada Bakar : ‘saya berlomba memanah denganmu dimana masing-masing dari kita akan memanah 20 kali, jika engkau tepat sasaran sebanyak 5 kali maka engkau mendapatkan satu dinar, namun jika saya yang unggul darimu maka engkau tidak terkena kewajiban apapun’! Lalu Bakar merespon : ‘baik saya terima’. Gambaran lomba seperti ini juga hukumnya boleh.</p>
<p>وَالثَّالِثَةُ: أَنْ يَدْفَعَ الْمَالَ كُلٌّ مِنَ الْمُتَسَابِقِينَ، كَأَنْ يَتَسَابَقَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو عَلَى خَيْلٍ، فَيَقُولُ زَيْدٌ: إِنْ سَبَقْتُكَ .. فَلِي عَلَيْكَ مِائَةُ دِينَارٍ، وَإِنْ سَبَقْتَنِي .. فَلَكَ مِنِّي مِائَةُ دِينَارٍ، وَهَذَا حَرَامٌ؛ لِأَنَّهُ عَلَى صُورَةِ الْقِمَارِ، وَهُوَ التَّرَدُّدُ بَيْنَ الْغُرْمِ وَالْغُنْمِ</p>
<p>3&#x20e3; Masing-masing pihak yang berlomba menyerahkan harta untuk hadiah lomba, gambarannya Zaid dan Amar berlomba pacuan kuda, lalu Zaid berkata : jika aku mengalahkanmu maka engkau harus memberikanku 100 dinar kepadaku, adapun jika engkau yang mengalahkanku, maka wajib atasku memberikanmu 100 dinar. Model perlombaan seperti ini HUKUMNYA HARAM karena merupakan judi, dimana ada peluang menderita kerugian berupa kekalahan serta tidak dapat hadiah dan juga ada peluang mendapat hadiah dengan sebab menang perlombaan.</p>
<p>الْحَالُ الرَّابِعَةُ: (وَأَنْ) يَدْفَعَ كُلٌّ مِنَ الْمُتَسَابِقِينَ الْمَالَ، وَ(يُدْخِلَا) أَيْ: يدْخُلُ الْمُتَسَابِقَانِ فِي الْمُسَابَقَةِ – (إِذَا كَانَ الْعِوَضُ مِنْهُمَا – مُحَلِّلًا) وَيَكُونُ هَذَا الْمُحَلِّلُ (كُفْؤًا لَهُمَا) فِي الْمَهَارَةِ وَالْحَذَقِ بِحَيْثُ يُمْكِنُ أَنْ يَفُوزَ عَلَيْهِمَا بِلَا نُدور (وَ) تَكُونَ (دَابَّتُهُ كُفْؤًا</p>
<p>لِدَابَّتَيْهِمَا) وَهَذَا الْمُحَلِّلُ لَا يَدْفَعُ شَيْئًا، بَلْ (يَأْخُذُ مَا أَخْرَجَاهُ) مِنَ الْمَالِ (إِذَا سَبَقَهُمَا، وَلَا يَغْرَمُ شَيْئًا إِذَا سَبَقَاهُ)؛ فَيَخْرُجُ الْعَقْدُ بِذَلِكَ عَنْ صُورَةِ الْقِمَارِ</p>
<p>4&#x20e3; Masing-masing pihak yang berlomba menyerahkan harta untuk hadiah lomba (membayar) kemudian karena para peserta lomba membayar maka mereka menggabungkan satu orang peserta sebagai muhallil yang harus selevel dengan peserta lomba baik dari segi skill keterampilan dan kemahiran dimana muhallil ada peluang menang atas peserta lomba lain, kendaraan tunggangan yang digunakan muhallil juga harus sama bagusnya dengan milik peserta lomba. Muhallil ini tidak membayar apapun dalam perlombaan, bahkan jika menang muhallil akan mengambil semua hadiah lomba yang dibayarkan peserta, dan muhallil juga tidak merugi sedikitpun ketika kalah dari peserta lomba. Sehingga dengan adanya muhallil yang tidak membayar apapun dalam perlombaan ini menjadikan unsur judi hilang.</p>
<p>Dari uraian diatas dapat dipahami apabila hadiah perlombaan yang ada kaitannya dengan alat-alat perang dan persiapan perang diambil dari uang para peserta dimana pihak yang akan memenangkan perlombaan berhak mendapatkan hadiah maka itu adalah judi yang hukumnya haram dalam Islam! Adapun tiga model perlombaan lainnya masih diperbolehkan ada hadiah.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa meskipun para peserta lomba ada seratus orang dan mereka semua menyerahkan uang, namun muhallil yang tidak menyerahkan uang hanyalah satu orang, maka itu sudah mencukupi untuk menghilangkan unsur judi.</p>
<p>Maka perlombaan yang ada kaitannya dengan alat-alat perang dan persiapan perang betul-betul harus dipastikan tidak sedikitpun mengandung unsur judi yang diharamkan dalam Islam!</p>
<p>Sekali lagi pembahasan diatas berkaitan dengan perlombaan yang ada kaitannya dengan alat-alat perang dan persiapan perang dimana pada keterangan kitab Mu&#8217;nisul Jalis Bi Syarhil Yaqut An Nafis Fi Madzhab Ibn Idris disebutkan dua jenis lomba, yakni memanah dan pacuan kuda. Lomba model inilah yang disebutkan dalam dalil berkaitan dengan alat perang dan persiapan perang.</p>
<h3></h3>
<h3><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f530.png" alt="🔰" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> B. Perlombaan Yang Sama Sekali Tidak Berkaitan Dengan Alat-Alat Perang Dan Persiapan Perang</h3>
<p>Sedangkan hukum hadiah perlombaan YANG TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN ALAT-ALAT PERANG DAN PERSIAPAN PERANG maka hukumnya berbeda. Berikut dua keterangan dari fuqaha Syafiiyah.</p>
<p>Imam Syamsuddin Ramli menyampaikan :</p>
<p>وإن كان من أحدهما ليبذله إن غلب ويمسكه إن غلب فليس بقمار لكنه عقد مسابقة على غير آلة قتال فهو محرم من جهته، إذ تعاطي العقود الفاسدة حرام وهذا كما قبله صغيرة، لكن أخذ المال كبيرة</p>
<p>Adapun jika hadiah lomba berasal dari salah satu peserta dimana jika dia kalah hadiah akan diserahkan ke lawannya sedangkan apabila dia menang maka hadiah tetap di tangannya tidak berpindah ke lawannya, maka yang demikian bukan judi. Akan tetapi yang demikian merupakan akad PERLOMBAAN YANG TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN ALAT-ALAT PERANG dimana HUKUMNYA HARAM dari sisinya. Karena melakukan akad-akad fasid hukumnya haram dan sebagaimana disampaikan sebelumnya termasuk dosa kecil, namun mengambil harta dari akad-akad fasid termasuk dosa besar! (Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj juz 8 halaman 296).</p>
<p>Imam An Nawawi juga menyampaikan :</p>
<p>وإنما يكون قمارا إذا شرط المال من الجانبين، فإن أخرج أحدهما ليبذله إن غلب، ويمسكه إن غلب، فليس بقمار، ولا ترد به شهادة، لكنه عقد مسابقة على غير آلة قتال، فلا يصح</p>
<p>Hanyalah yang disebut judi jika disyaratkan ada harta yang dikeluarkan oleh dua pihak yang berlomba, adapun jika hadiah lomba berasal dari salah satu peserta dimana jika dia kalah akan diserahkan ke lawannya sedangkan apabila dia menang maka hadiah tetap di tangannya tidak berpindah ke lawannya, maka yang demikian bukan judi dan persaksiannya tidaklah ditolak, akan tetapi yang demikian merupakan akad PERLOMBAAN YANG TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN ALAT-ALAT PERANG maka akad tersebut dihukumi TIDAK SAH/TIDAK DIPERKENANKAN. (Raudhah Thalibin Wa Umdatul Muftin juz 11 halaman 225 &#8211; 226).</p>
<p>Jelas sekali bukan dari dua keterangan Syafiiyah ini bahwa lomba apapun yang tidak ada kaitannya dengan alat-alat perang maupun persiapan perang maka hukumnya haram dan tidak sah! Sehingga tidak boleh ada hadiah atau kompensasi apapun bagi pemenang dalam lomba yang tidak ada kaitannya dengan alat-alat perang maupun persiapan perang!</p>
<p>Sebagai tambahan informasi, tidak boleh ada hadiah atau harta apapun bagi pemenang lomba yang tidak ada kaitannya dengan alat-alat perang maupun persiapan perang juga MERUPAKAN PENDAPAT 3 MADZHAB LAINNYA SELAIN SYAFIIYAH! BAHKAN JUGA PENDAPAT ZHAHIRIYAH! Bayangkan, 5 madzhab fiqih punya pandangan yang sama dalam bahasan ini! Jelas sangat kuat.</p>
<p>Keterangan tersebut disampaikan oleh Syaikh Khalid bin Abdullah Al Mushlih dalam kitab Al Hawafiz At Tijariyah At Taswiqiyah Wa Ahkamuha Fil Fiqh Al Islamiy pada halaman 139.</p>
<p>Lalu bagaimana solusi untuk kebiasaan masyarakat negeri kita yang mengadakan acara perlombaan Agustusan yang tentu saja perlombaannya sama sekali tidak ada kaitan dengan alat-alat perang dan persiapan perang? Bagaimana dengan hadiahnya?</p>
<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f31f.png" alt="🌟" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Jawabannya bisa ikut ke satu pendapat (satu qaul) dalam madzhab Malikiyah! Dimana menurut sebagian ulama Malikiyah lomba yang tidak ada kaitannya dengan alat perang dan persiapan perang maka dibolehkan ada hadiah dari pihak luar bukan peserta lomba meskipun tetap dihukumi makruh!</p>
<p>Imam Al Hattab Ar Ru&#8217;yani Al Maliki menyampaikan :</p>
<p>قال الزناتي: واختلف فيمن تطوع بإخراج شيء للمتصارعين وللمتسابقين على أرجلهما، أو على حماريهما، أو على غير ذلك مما لم ترد به سنة بالجواز والكراهة</p>
<p>Imam Az Zanati mengatakan : para ulama Malikiyah berbeda pandangan terkait dengan seseorang yang secara sukarela mengeluarkan sesuatu sebagai hadiah bagi dua orang yang bergulat atau dua orang yang lomba lari atau lomba pacuan keledai ataupun LOMBA LAINNYA YANG TIDAK DISEBUT DALAM AS SUNNAH, maka hukumnya BOLEH meskipun tetap mengandung KEMAKRUHAN. (Mawahibul Jalil Fi Syarhi Mukhtasar Qalil juz 3 halaman 393).</p>
<p>Sehingga perlombaan yang tidak berkaitan dengan alat perang dan persiapan perang dalam madzhab Syafiiyah tidak boleh ada harta atau hadiah atau kompensasi! Sedangkan menurut satu pendapat (satu qaul) dalam madzhab Malikiyah dibolehkan ada hadiah dari pihak luar bukan peserta lomba meski tetap tidak lepas dari unsur makruh!</p>
<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f31f.png" alt="🌟" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Solusi lainnya untuk perlombaan Agustusan agar dibolehkan adalah lomba diadakan TANPA ADA HADIAH SAMA SEKALI.</p>
<p>Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.</p>
<p>والله تعالى أعلم بالصواب</p>
<p>Ditulis oleh : Yurifa Iqbal &#8211; alumni Ma&#8217;had Darussalam Asy Syafii angkatan 3</p>
<p>Murajaah : Ustaz Abu Husein Agus Waluyo &#8211; Mudir Ma&#8217;had Darussalam Asy Syafii</p>
<p>____<br />
Jadikan ilmu syar&#8217;i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi&#8217;i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis</p>
<p>Yuk Segera Follow &amp; Pantau Media Kami:</p>
<p>Website: darussalam.or.id<br />
Facebook: fb.me/darussalam.or.id<br />
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id<br />
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam<br />
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/08/hukum-perlombaan-dengan-atau-tanpa-hadiah-persfektif-fikih/">Rincian Hukum Perlombaan dengan atau Tanpa Hadiah dalam Persfektif Fikih Islam</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://darussalam.or.id/2026/08/hukum-perlombaan-dengan-atau-tanpa-hadiah-persfektif-fikih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Ragu-ragu Air Mencapai Dua Kulah atau Tidak</title>
		<link>https://darussalam.or.id/2026/08/ketika-ragu-air-mencapai-dua-kulah-tidak/</link>
					<comments>https://darussalam.or.id/2026/08/ketika-ragu-air-mencapai-dua-kulah-tidak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2026 12:36:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://darussalam.or.id/?p=2650</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bismillah washshalatu wassalamu &#8216;ala rosulillah, Dalam madzhab syafi&#8217;i, air di bawah dua kulah* akan ternajisi semata-mata terkena najis, meskipun tidak</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/08/ketika-ragu-air-mencapai-dua-kulah-tidak/">Ketika Ragu-ragu Air Mencapai Dua Kulah atau Tidak</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah washshalatu wassalamu &#8216;ala rosulillah,<br />
Dalam madzhab syafi&#8217;i, air di bawah dua kulah* akan ternajisi semata-mata terkena najis, meskipun tidak berubah warna, rasa, dan baunya. Akibatnya, air tersebut tidak bisa dipakai bersuci. Adapun jika dua kulah, maka tidak ternajisi kecuali sampai berubah warna, rasa, atau baunya, meski perubahannya sedikit.</p>
<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/2049.png" alt="⁉" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Lalu bagaimana jika terdapat air yang kita ragu banyaknya dua kulah atau tidak, kemudian ada najis yang tidak dimaafkan** jatuh ke air tersebut?</p>
<p>Dalam Mughnil Muhtaj (1/124), Khotib Syirbini mengatakan bahwa pendapat resmi madzhab, air tersebut <strong>tidak ternajisi</strong>. Alasannya beliau kutip dari perkataan Imam Nawawi dalam Majmu, bahwa asal air tersebut suci, sedangkan kondisi dia ternajisi itu diragukan. Maka, dipertahankanlah hukum asal, yaitu suci. Kasus ini tercakup dalam kaidah <em>Al Yaqin La Yazulu Bis Syak</em> (sesuatu yang yakin tidak gugur dengan hal yang diragukan).</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4dd.png" alt="📝" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Catatan:</strong></p>
<p>*) Dua kulah dalam ukuran sekarang memiliki beberapa versi konversi. Syaikh Muhammad Baro Aliy mengikuti konversi Syaikh Amir Bahjat, mengonversinya 191 liter (Judul Maqodir Syar&#8217;iyyah bil Wahdaatil Ashriyyah).</p>
<p>**) Contoh najis yang dimaafkan adalah bangkai hewan yang tidak ada darah mengalir ketika bagian tubuhnya terpotong, contohnya seperti lalat (Fathul Muin: 44)<br />
Dirangkum oleh: Rifki Nur (Santri Ma&#8217;had Darussalam Asy Syafi&#8217;i angkatan 4)<br />
Murajaah: Al Ustaz Abu Husein Agus Waluyo &#8211; Mudir Ma&#8217;had Darussalam Asy Syafi&#8217;i</p>
<p>____<br />
Jadikan ilmu syar&#8217;i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi&#8217;i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis</p>
<p>Yuk Segera Follow &amp; Pantau Media Kami:</p>
<p>Website: darussalam.or.id<br />
Facebook: fb.me/darussalam.or.id<br />
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id<br />
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam<br />
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/08/ketika-ragu-air-mencapai-dua-kulah-tidak/">Ketika Ragu-ragu Air Mencapai Dua Kulah atau Tidak</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://darussalam.or.id/2026/08/ketika-ragu-air-mencapai-dua-kulah-tidak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Akad Wakalah Bertransformasi Menjadi Akad Sewa Jasa (Ijarah), Bisakah?</title>
		<link>https://darussalam.or.id/2026/08/akad-wakalah-bertransformasi-menjadi-sewa-jasa-ijarah/</link>
					<comments>https://darussalam.or.id/2026/08/akad-wakalah-bertransformasi-menjadi-sewa-jasa-ijarah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2026 14:25:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://darussalam.or.id/?p=2644</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada pembahasan Fiqih Muamalat terdapat satu kondisi yang memungkinkan akad wakalah bertransformasi menjadi akad sewa jasa ijarah. Gambaran kasus misalnya</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/08/akad-wakalah-bertransformasi-menjadi-sewa-jasa-ijarah/">Akad Wakalah Bertransformasi Menjadi Akad Sewa Jasa (Ijarah), Bisakah?</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada pembahasan Fiqih Muamalat terdapat satu kondisi yang memungkinkan akad wakalah bertransformasi menjadi akad sewa jasa ijarah.</p>
<p><strong>Gambaran kasus</strong> misalnya sebagai berikut: Badrun mewakilkan (akad wakalah) kepada Zaid untuk menjualkan rumahnya kepada konsumen. Lalu setelah akad wakalah ini berjalan beberapa waktu, kedua belah pihak sepakat mengubah akad wakalah menjadi akad sewa jasa ijarah dimana Badrun berakad ijarah dengan Zaid untuk menjualkan rumahnya.</p>
<p>Dalam pandangan ulama fiqih wabil khusus Syafiiyah sahkah akad tersebut? Mari kita cek di beberapa referensi kitab fiqih ulama Syafiiyah.</p>
<p>Di dalam kitab أسنى المطالب في شرح روض الطالب juz 2 halaman 278 disampaikan:</p>
<p>فإن كان باستئجار بأن عقدت بلفظ الإجارة فهو لازم لا يقبل العزل وهذا ظاهر لا يحتاج إلى التنبيه عليه</p>
<p>Apabila akad wakalah bertransformasi menjadi akad ijarah dengan gambaran para pihak saling berakad dengan lafal redaksi ijarah, maka akad ijarah tersebut menjadi akad lazim yang mengikat kedua belah pihak dan tidak bisa dibatalkan begitu saja, hal ini begitu jelas dan tidak perlu didetailkan lagi karena begitu jelasnya.</p>
<p>Kemudian di dalam kitab روضة الطالبين وعمدة المفتين pada juz 4 halaman 332 disampaikan:</p>
<p>متى قلنا: الوكالة جائزة، أردنا الخالية عن الجعل. فأما إذا شرط فيها جعل معلوم، واجتمعت شرائط الإجارة، وعقد بلفظ الإجارة، فهي لازمة</p>
<p>Maka kapanpun kita mengatakan akad wakalah/perwakilan adalah akad jaiz dimana setiap pihak bisa untuk membatalkannya, berarti akad wakalah itu terbebas dari upah. Adapun jika dalam wakalah dipersyaratkan adanya nominal upah tertentu yang diketahui para pihak yang berakad, kemudian terpenuhi syarat-syarat ijarah pada akad tersebut, dan pihak yang berakad saling berakad dengan lafal redaksi ijarah maka akad wakalah sah bertransformasi menjadi akad ijarah yang lazim mengikat kedua belah pihak dan tidak bisa dibatalkan begitu saja.</p>
<p>Terakhir, masih dari Syafiiyah di dalam kitab الحاوي الكبير في فقه مذهب الإمام الشافعي وهو شرح مختصر المزني juz 6 halaman 529 disampaikan:</p>
<p>قال الماوردي: وهذا كما قال وقد ذكرنا أن الوكالة تجوز بجعل وبغير جعل ولا يصح الجعل إلا أن يكون معلوما. فلو قال: قد وكلتك في بيع هذا الثوب على أن جعلك عشر ثمنه أو من كل مائة درهم في ثمنه درهم لم يصح للجهل بمبلغ الثمن وله أجرة مثله</p>
<p>Imam Al Mawardi menyampaikan: Yang demikian sebagaimana telah disampaikan, serta telah kami sebutkan bahwa akad wakalah boleh ada upah serta boleh juga tidak ada upah alias gratis. Upah dalam akad ini tidak diperkenankan kecuali jika nominal upah telah diketahui oleh para pihak yang berakad. Apabila seseorang berkata: saya wakilkan kepada engkau penjualan pakaian ini dengan syarat upah yang engkau terima adalah 1/10 dari harga pakaian tersebut, atau tiap 100 dirham dari harganya engkau dapat 1 dirham, maka akad tersebut tidak sah karena jumlah harga jual tidak diketahui. Pada kasus ini sang wakil mendapatkan ujrah mitsl alias upah standar bukan upah yang disampaikan saat akad.</p>
<p>Jadi <strong>kesimpulannya</strong>, menurut Syafiiyah akad wakalah bisa bertransformasi menjadi akad ijarah dengan 3 syarat yaitu:</p>
<ol>
<li>Dipersyaratkan adanya nominal upah tertentu yang diketahui pihak yang berakad</li>
<li>Terpenuhi syarat-syarat ijarah pada akad tersebut</li>
<li>Para pihak saling berakad dan saling bertransaksi dengan lafal redaksi ijarah</li>
</ol>
<p>Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.</p>
<p>والله تعالى أعلم بالصواب</p>
<p>Dirangkum oleh: Yurifa Iqbal (alumni Ma&#8217;had Darussalam Asy Syafi&#8217;i angkatan 3)<br />
Murajaah: Al Ustaz Abu Husain Agus Waluyo &#8211; Mudir Ma&#8217;had Darussalam Asy Syafi&#8217;i</p>
<p>____<br />
Jadikan ilmu syar&#8217;i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi&#8217;i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis</p>
<p>Yuk Segera Follow &amp; Pantau Media Kami:</p>
<p>Website: darussalam.or.id<br />
Facebook: fb.me/darussalam.or.id<br />
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id<br />
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam<br />
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/08/akad-wakalah-bertransformasi-menjadi-sewa-jasa-ijarah/">Akad Wakalah Bertransformasi Menjadi Akad Sewa Jasa (Ijarah), Bisakah?</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://darussalam.or.id/2026/08/akad-wakalah-bertransformasi-menjadi-sewa-jasa-ijarah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Solusi agar Bisa Memiliki Kotoran Hewan sebagai Pupuk menurut Syafiiyah</title>
		<link>https://darussalam.or.id/2026/07/solusi-agar-bisa-memiliki-kotoran-hewan-sebagai-pupuk-menurut-syafiiyah/</link>
					<comments>https://darussalam.or.id/2026/07/solusi-agar-bisa-memiliki-kotoran-hewan-sebagai-pupuk-menurut-syafiiyah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2026 09:52:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://darussalam.or.id/?p=2632</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#x1f530; Karakteristik Kotoran Hewan Kotoran hewan sebenarnya tergolong dalam bahan organik yang bisa terurai. Meski demikian tidak semua kotoran hewan</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/07/solusi-agar-bisa-memiliki-kotoran-hewan-sebagai-pupuk-menurut-syafiiyah/">Solusi agar Bisa Memiliki Kotoran Hewan sebagai Pupuk menurut Syafiiyah</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f530.png" alt="🔰" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Karakteristik Kotoran Hewan</h3>
<p>Kotoran hewan sebenarnya tergolong dalam bahan organik yang bisa terurai. Meski demikian tidak semua kotoran hewan bisa dijadikan sebagai pupuk. Kotoran hewan yang bisa dijadikan pupuk diantaranya adalah kotoran dari sapi, ayam, dan kambing.</p>
<p>Lalu bagaimana hukum jual beli kotoran hewan untuk pupuk berdasarkan pandangan Syafi&#8217;iyah? Apakah sah jual beli tersebut? Jika tidak sah bagaimana jalan keluarnya?</p>
<h3><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f530.png" alt="🔰" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Keabsahan Objek Jual Beli dalam Mazhab Syafi’i</h3>
<p>Perlu diketahui, menurut pandangan Syafi&#8217;iyah <strong>objek barang yang diperjual belikan haruslah suci atau memungkinkan untuk bisa disucikan dengan cara dicuci!</strong></p>
<p>Di dalam kitab الياقوت النفيس في مذهب ابن إدريس halaman 96 disampaikan syarat objek barang yang diperjual belikan diantaranya:</p>
<p>كونه طاهرا أو يمكن تطهيره بالغسل</p>
<p>Artinya: &#8220;Barang yang diperjual belikan harus suci atau barang tersebut terkena najis namun bisa disucikan dengan cara dicuci.&#8221;</p>
<p>Sehingga dari sini bisa kita pahami bahwa jual beli kotoran hewan untuk pupuk dalam pandangan Syafi&#8217;iyah *tidak sah* karena hal itu terkategori zat barang najis!</p>
<p>Di dalam kitab إكمال التدريس بالتعليق على الياقوت النفيس في مذهب ابن إدريس juz 1 halaman 435 disampaikan:</p>
<p>فلا يصح بيع نجس العين وإن أمكن طهره بالاستحالة</p>
<p>Artinya: &#8220;Tidak sah jual beli zat barang najis meskipun ada kemungkinan bisa menjadi zat suci dengan jalan Istihalah (yakni berubahnya bentuk dan sifat zat dari satu keadaan ke keadaan lainnya).&#8221;</p>
<h3><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f31f.png" alt="🌟" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Solusi Fikih: Akad Raf&#8217;ul Yad (Melepaskan Hak)</h3>
<p>Adapun solusi dari Syafi&#8217;iyah untuk bisa memiliki kotoran hewan untuk pupuk adalah melepaskan/menggugurkan hak (رفع اليد, raf&#8217;ul yad). Karena menurut Syafi&#8217;iyah barang najis itu tidak bisa disebut harta, namun bisa disebut sebagai ikhtisash (اختصاص), dan diantara ikhtisash ini adalah pupuk dari kotoran hewan.</p>
<p>Masih dalam kitab dan halaman yang sama disampaikan solusi melepaskan/menggugurkan hak (رفع اليد, raf&#8217;ul yad) sebagai berikut:</p>
<p>ويجوز رفع اليد عن الاختصاص كالسرجين بالدراهيم</p>
<p>Artinya: &#8220;Boleh melepaskan hak, menggugurkan hak (رفع اليد, raf&#8217;ul yad) berkaitan dengan ikhtisash, yaitu mengganti pupuk dari kotoran hewan dengan kompensasi dirham/uang.&#8221;</p>
<p>Keterangan semisal juga dapat ditemukan dalam kitab مؤنس الجليس بشرح الياقوت النفيس في مذهب ابن إدريس juz 1 halaman 561:</p>
<p>يجوز رفع اليد عن الاختصاص بالمال</p>
<p>Artinya: &#8220;Boleh melepaskan hak, menggugurkan hak (رفع اليد, raf&#8217;ul yad) ikhtisash dengan kompensasi harta.&#8221;</p>
<h3><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f530.png" alt="🔰" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Teknis Praktik dan Redaksi Lafal Akad</h3>
<p>Teknisnya menurut Syafi&#8217;iyah adalah seorang yang ingin memiliki pupuk kotoran hewan harus mengatakan kepada pemiliknya: &#8220;Lepaskan hak anda, gugurkan hak anda atas pupuk kotoran hewan itu dengan saya beri kompensasi sejumlah uang ini.&#8221;</p>
<p>Atau pemilik pupuk kotoran hewan mengatakan kepada seseorang yang ingin memilikinya: &#8220;Saya gugurkan hak saya atas pupuk kotoran hewan ini dengan kompensasi sejumlah uang&#8221;, lalu kemudian direspon balik: &#8220;Baik saya setuju.&#8221;</p>
<p>Yang perlu kita pahami terkait redaksi lafal seperti disebutkan di atas bukanlah redaksi jual beli menurut Syafi&#8217;iyah!</p>
<p>Terakhir, di dalam kitab حاشية البجيرمي على الخطيب juz 3 halaman 4 disampaikan:</p>
<p>لا يبعد اشتراط الصيغة في نقل اليد في الاختصاص، كأن يقول: رفعت يدي عن هذا الاختصاص. ولا يبعد جواز أخذ العوض عن نقل اليد</p>
<p>Artinya: &#8220;Kemungkinan yang mendekati kebenaran adalah disyaratkan adanya redaksi lafal untuk melepaskan hak, menggugurkan hak (رفع اليد, raf&#8217;ul yad) berkaitan dengan ikhtisash (semacam pupuk kotoran hewan) contohnya redaksi lafal: saya lepaskan/gugurkan hak saya atas ikhtisash pupuk kotoran hewan ini. Secara hukum diperbolehkan mengambil kompensasi harta dari gugur dan lepasnya hak ikhtisash semacam ini.&#8221;</p>
<p>Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.<br />
والله تعالى أعلم بالصواب</p>
<p>Dirangkum oleh: Yurifa Iqbal (alumni Ma&#8217;had Darussalam Asy Syafii angkatan 3)<br />
Murajaah: Al-Ustadz Abu Husein Agus Waluyo &#8211; Mudir Ma&#8217;had Darussalam Asy-Syafi&#8217;i<br />
____<br />
Jadikan ilmu syar&#8217;i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi&#8217;i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis</p>
<p>Yuk Segera Follow &amp; Pantau Media Kami:<br />
Website: darussalam.or.id<br />
Facebook: fb.me/darussalam.or.id<br />
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id<br />
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam<br />
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/07/solusi-agar-bisa-memiliki-kotoran-hewan-sebagai-pupuk-menurut-syafiiyah/">Solusi agar Bisa Memiliki Kotoran Hewan sebagai Pupuk menurut Syafiiyah</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://darussalam.or.id/2026/07/solusi-agar-bisa-memiliki-kotoran-hewan-sebagai-pupuk-menurut-syafiiyah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Niat Wudhu sebelum Membasuh Wajah</title>
		<link>https://darussalam.or.id/2026/07/hukum-niat-wudhu-sebelum-membasuh-wajah/</link>
					<comments>https://darussalam.or.id/2026/07/hukum-niat-wudhu-sebelum-membasuh-wajah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2026 13:14:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://darussalam.or.id/?p=2627</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bismillah, wasshalatu wassalamu ala rosulillah. Bagi kita yang mempelajari fikih syafi’i, biasanya mengetahui bahwa niat wudhu dilakukan di awal membasuh</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/07/hukum-niat-wudhu-sebelum-membasuh-wajah/">Hukum Niat Wudhu sebelum Membasuh Wajah</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah, wasshalatu wassalamu ala rosulillah.</p>
<p>Bagi kita yang mempelajari fikih syafi’i, biasanya mengetahui bahwa niat wudhu dilakukan di awal membasuh wajah. Lalu bagaimana jika niat dilakukan sebelum itu semisal ketika membasuh telapak tangan?</p>
<p>Untuk membahas ini, kita bisa melihat dari dua gambaran:</p>
<h3>1. Meniatkan Sunnah Wudhu</h3>
<p>Kondisi ini adalah yang paling afdhol, di mana seseorang meniatkan sunnah wudhu ketika membasuh telapak tangan, kumur-kumur dan memasukan air ke hidung (istinsyaq), kemudian meniatkan fardhu wudhu ketika membasuh wajah. Tidak ada masalah dalam hal ini.</p>
<h3>2. Meniatkan Mengangkat Hadats, Fardhu Wudhu, Atau Wudhu Saja</h3>
<p>Untuk kondisi ini, maka wudhu tetap sah asalkan ketika membasuh wajah, niat wudhu tetap ada. Akan tetapi terdapat perbedaan dari sisi pahala antara telapak tangan dan kumur-kumur:</p>
<ul>
<li>Untuk kasus telapak tangan: Asalkan dipertahankan niatnya sampai wajah, kegiatan tersebut terhitung sunnah wudhu.</li>
<li>Untuk kasus kumur-kumur dan istinsyaq: Berbeda halnya dengan kasus ini. Karena hampir dipastikan sebagian wajah terkena ketika kumur-kumur dan istinsyaq, maka kumur-kumur dan istinsyaq tidak dianggap, dan tidak ada pahalanya.</li>
</ul>
<h3><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f530.png" alt="🔰" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Kesimpulan:</h3>
<p>Oleh karena itu, hendaknya kita tidak lupa untuk meniatkan sunnah wudhu ketika melakukan sunnah wudhu, dan meniatkan fardhu wudhu ketika melakukan fardhu wudhu. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Sumber: Ghayatul Muna 136-137<br />
____<br />
Dirangkum oleh: Rifki Nur (Santri Ma’had Darussalam Asy Syafi’i Angkatan 4)<br />
Muroja&#8217;ah: Ustadz Abu Husein Agus Waluyo (Mudir Ma&#8217;had Darussalam Asy-Syafi&#8217;i)<br />
____<br />
Jadikan ilmu syar&#8217;i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi&#8217;i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis</p>
<p>Yuk Segera Follow &amp; Pantau Media Kami:<br />
Website: darussalam.or.id<br />
Facebook: fb.me/darussalam.or.id<br />
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id<br />
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam<br />
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/07/hukum-niat-wudhu-sebelum-membasuh-wajah/">Hukum Niat Wudhu sebelum Membasuh Wajah</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://darussalam.or.id/2026/07/hukum-niat-wudhu-sebelum-membasuh-wajah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Scroll Terus? Hati-hati Dosa di Bulan Haram Lebih Berat</title>
		<link>https://darussalam.or.id/2026/07/scroll-terus-hati-hati-dosa-di-bulan-haram-lebih-berat/</link>
					<comments>https://darussalam.or.id/2026/07/scroll-terus-hati-hati-dosa-di-bulan-haram-lebih-berat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2026 06:46:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://darussalam.or.id/?p=2616</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di era digital ini, akses terhadap berita, informasi, rekaman kajian, hingga hiburan terasa begitu mudah. Berbagai aplikasi seperti WhatsApp, Facebook,</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/07/scroll-terus-hati-hati-dosa-di-bulan-haram-lebih-berat/">Scroll Terus? Hati-hati Dosa di Bulan Haram Lebih Berat</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Di era digital ini, akses terhadap berita, informasi, rekaman kajian, hingga hiburan terasa begitu mudah. Berbagai aplikasi seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, Telegram, hingga TikTok hadir memanjakan manusia dengan beragam fiturnya.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Pada dasarnya, menggunakan media sosial bukanlah suatu masalah selama mendatangkan manfaat dan bisa mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla. Sebab, teknologi ini hanyalah sebuah sarana. Jika digunakan untuk kebaikan, ia akan berbuah pahala. Sebaliknya, jika disalahgunakan untuk keburukan, ia hanya akan menjadi jalan pembuka menuju dosa.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Terlebih di bulan-bulan Haram, bulan-bulan yang memiliki kedudukan yang agung disisi Allah, di mana kebaikan dan dosa dilipatgandakan oleh Allah &#8216;Azza Wajalla pada bulan-bulan tersebut. </span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Allah berfirman,</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z"> </span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">&#8220;Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antara dua belas bulan itu terdapat empat bulan Haram (mulia), Itulah Agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan tersebut&#8230;” </span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">(QS. At-Taubah: 36)</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Empat bulan Haram yang dimaksud adalah bulan Dzul Qa&#8217;dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam secara lugas dalam hadits,</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z"> ألا إنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">&#8220;Sesungguhnya waktu itu terus berputar sama seperti saat Allah menciptakan langit dan bumi, setahun ada dua belas bulan, dan empat di antaranya adalah bulan-bulan Haram, dan tiga di antaranya adalah bulan-bulan yang berurutan yaitu: Dzul Qa&#8217;dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Sedangkan bulan Rajab adalah bulannya Mudha, yaitu bulan yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya&#8217;ban.&#8221; </span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">(HR. Bukhari-Muslim)</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Dalam QS. At-Taubah: 36 di atas, Allah &#8216;Azza Wajalla menyebutkan,</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">&#8220;Maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan tersebut&#8230;&#8221; </span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">(QS. At-Taubah: 36)</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Al-Imam Jalaluddin As-Suyuthi rahimahullah dalam tafsir Jalalain menyebutkan maksud dari ayat,</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ :  أي الأشهر الحرم، أَنْفُسَكُمْ : أي بالمعاصي، فإن فيها أعظم وزرا.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">&#8220;Janganlah kamu menzhalimi dirimu pada bulan-bulan tersebut.&#8221; adalah: Janganlah kamu menzhalimi dirimu di bulan-bulan Haram tersebut dengan melakukan kemaksiatan, sebab dosa-dosa yang dilakukan di bulan-bulan tersebut lebih besar dosanya. </span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">(Tafsir Jalalain)</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-&#8216;Utsaimin rahimahullah berkata,</span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z"> </span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">فإذا كان قد نهي عن ظلم النفس بخصوص هذه الأشهر دل ذلك على أن العمل الصالح فيهن أفضل.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Apabila menzholimi diri sendiri dengan kemaksiatan dilarang dengan sebab kekhususan bulan-bulan Haram ini, maka hal ini menunjukkan bahwa amal sholeh yang dikerjakan pada bulan-bulan Haram ini adalah lebih utama dari pada bulan-bulan lainnya.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">ومن العبارات المشهورة عند العلماء قولهم : &#8221; تضاعف الحسنة في كل زمان ومكان فاضل &#8220;. فأرجو أن تكون الطاعة في الأشهر الحرم مضاعفة كما أن المعصية في الأشهر الحرم أشد وأعظم. نعم. إي نعم.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Diantara ungkapan yang fenomenal dikalangan para Ulama&#8217; adalah &#8220;Kebaikan itu berlipat ganda pada setiap waktu dan tempat yang mulia&#8221;, maka Aku berharap kebaikan di bulan-bulan Haram itu berlipat ganda sebagaimana kemaksiatan pada bulan bulan Haram ini lebih dahsyat dan lebih besar. </span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">(Fatawa al-Haram al-Makki)</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Oleh karena itu, hendaknya kita bijak dalam menggunakan media sosial.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Semoga Allah memberikan taufik bagi semua. Aamiin</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z xgkkfiv">_</span><i><em class="selectable-text copyable-text xkrh14z x1k4tb9n">_</em></i><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z xgkkfiv">_</span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">_</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Referensi:</span></p>
<ol>
<li class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" data-lexical-indent="0.75"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Tafsir Al-Jalalain, karya Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi, Penerbit Madarul Wathon, Saudi Arabia, tahun 1444 H/2023 M, hal. 192</span></li>
<li class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" data-lexical-indent="0.75">Fatawa al-Haram al-Makki, <span class="selectable-text copyable-text xkrh14z" style="font-size: 1.0625rem;">https://www.alathar.net/home/esound/index.php?op=codevi&amp;coid=117037</span></li>
</ol>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z xgkkfiv">_</span><i><em class="selectable-text copyable-text xkrh14z x1k4tb9n">_</em></i><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z xgkkfiv">_</span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">_</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Ditulis oleh: Irham Abisono (Santri Ma&#8217;had Darussalam Angkatan &#8211; 5)<br />
</span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Muroja&#8217;ah: Ustadz Abu Husain Agus Waluyo (Mudir Ma&#8217;had Darussalam Asy-Syafi&#8217;i)</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z xgkkfiv">_</span><i><em class="selectable-text copyable-text xkrh14z x1k4tb9n">_</em></i><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z xgkkfiv">_</span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">_</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Jadikan ilmu syar&#8217;i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi&#8217;i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z"> </span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Yuk Segera Follow &amp; Pantau Media Kami:</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6"><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Website: </span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">darussalam.or.id<br />
</span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Facebook: </span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">fb.me/darussalam.or.id<br />
</span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">Instagram: </span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">instagram.com/darussalam.or.id<br />
</span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">YouTube:  </span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">youtube.com/mahaddarussalam<br />
</span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">WhatsApp: </span><span class="selectable-text copyable-text xkrh14z">bit.ly/WAdarussalam</span></p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/07/scroll-terus-hati-hati-dosa-di-bulan-haram-lebih-berat/">Scroll Terus? Hati-hati Dosa di Bulan Haram Lebih Berat</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://darussalam.or.id/2026/07/scroll-terus-hati-hati-dosa-di-bulan-haram-lebih-berat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Ikut-ikutan! Ini Amalan Muharram yang Ada Dalilnya</title>
		<link>https://darussalam.or.id/2026/06/jangan-ikut-ikutan-ini-amalan-muharram-yang-ada-dalilnya/</link>
					<comments>https://darussalam.or.id/2026/06/jangan-ikut-ikutan-ini-amalan-muharram-yang-ada-dalilnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2026 10:03:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://darussalam.or.id/?p=2601</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bismillah, washshalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah, Sebagaimana diketahui, di bulan Muharram ini ada hari yang spesial, yaitu hari Asyura di mana</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/06/jangan-ikut-ikutan-ini-amalan-muharram-yang-ada-dalilnya/">Jangan Ikut-ikutan! Ini Amalan Muharram yang Ada Dalilnya</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah, washshalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah,</p>
<p>Sebagaimana diketahui, di bulan Muharram ini ada hari yang spesial, yaitu hari Asyura di mana jika seseorang berpuasa di hari tersebut, dosa setahun yang lalu bisa terampuni. Namun demikian, tersebar juga di masyarakat amalan-amalan lain yang dianjurkan di hari ini.</p>
<p>Di antaranya adalah apa yang dinukil dalam Hasyiyah al-Jamal (2/348) dan I&#8217;anatuth Thalibin (2/302) berupa nazam berikut ini:</p>
<p>فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ عَشْرٌ يَتَّصِلْ &#8230; بِهَا اثْنَتَانِ فَلَهَا فَضْلٌ نُقِلْ<br />
صُمْ صَلِّ زُرْ عَالِمًا عُدْ وَاكْتَحِلْ &#8230; رَأْسَ الْيَتِيمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ<br />
وَسِّعْ عَلَى الْعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرًا &#8230; وَسُورَةَ الْإِخْلَاصِ قُلْ أَلْفًا تَصِلْ</p>
<p>Pada kutipan tersebut disebutkan 12 amalan khusus di hari Asyura, yaitu puasa, shalat, mengunjungi orang berilmu, menjenguk orang sakit, bercelak, mengusap kepala anak yatim, bersedekah, mandi, melapangkan nafkah keluarga, memotong kuku, membaca surat Al-Ikhlas 1000 kali, dan menyambung silaturahmi.</p>
<p>Namun begitu, tidak ada dalil kekhususan untuk ibadah-ibadah di atas, kecuali amalan puasa dan meluaskan nafkah. Hal ini dikomentari oleh Al-Munawi sebagaimana dinukil oleh Asy-Syirbini/Asy-Syarwani (3/455):</p>
<p>&#8220;Telah terdapat riwayat:</p>
<p>مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ السَّنَةَ كُلَّهَا</p>
<p>(&#8216;Barangsiapa yang melapangkan nafkah untuk keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkannya sepanjang tahun&#8217;).</p>
<p>&#8220;Meskipun jalur-jalur periwayatannya semuanya lemah, akan tetapi menjadi kuat dengan digabungkannya sebagian dengan sebagian yang lain…</p>
<p>&#8220;Adapun amalan-amalan yang tersebar luas di hari Asyura seperti shalat (tertentu), menginfakkan harta, mewarnai rambut (dengan pacar/henna), berminyak (rambut), bercelak, memasak biji-bijian, dan selainnya, maka pensyarah mengatakan: &#8216;Itu adalah perkara yang dibuat-buat dan diada-adakan&#8217;.&#8221;</p>
<p>Hal yang kurang lebih sama juga ditegaskan di dalam Fathul Mu&#8217;in bahwa amalan shalat khusus di hari tersebut merupakan bidah yang buruk. Hadits-hadits terkait bercelak, mandi, dan berhias diri adalah buatan para pendusta. Dalam hasyiyahnya, Al-Bakri (2/301) menukil perkataan Al-Ajhuri yang mengatakan:</p>
<p>&#8220;Dan sungguh aku telah bertanya kepada sebagian ulama hadits dan fikih tentang amalan bercelak, memasak biji-bijian, memakai pakaian baru, dan menampakkan kegembiraan di hari Asyura. Maka mereka menjawab: &#8216;Tidak ada satu pun hadits shahih yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengenai hal itu, juga tidak dari seorang pun dari kalangan sahabat, dan tidak ada seorang pun dari para imam kaum Muslimin yang menganjurkannya&#8230;&#8217;</p>
<h3><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4dd.png" alt="📝" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Kesimpulan</h3>
<p>Bahwa apa yang diriwayatkan tentang melakukan sepuluh amalan pada hari Asyura, tidak ada yang shahih kecuali hadits tentang puasa dan melapangkan nafkah untuk keluarga. Adapun delapan amalan lainnya: sebagiannya lemah, dan sebagiannya munkar dan palsu.&#8221;</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya seseorang menjaga dirinya dari amalan-amalan tersebut, serta mencukupkan diri dengan amalan yang riwayatnya valid.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4da.png" alt="📚" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Sumber Referensi:<br />
1. Hasyiyah al-Jamal &#8216;ala Fathil Wahhab<br />
2. Hasyiyah asy-Syarwani &#8216;ala Tuhfatil Muhtaj<br />
3. Hasyiyah I&#8217;anatuth Thalibin &#8216;ala Fathil Mu&#8217;in<br />
4. Ahkam Asyura, Muhammad Barro Aliy</p>
<p>____<br />
Dirangkum oleh: Rifki Nur (Santri Ma’had Darussalam Asy Syafi’i Angkatan 4)<br />
Muroja&#8217;ah: Ustadz Abu Husein Agus Waluyo (Mudir Ma&#8217;had Darussalam Asy-Syafi&#8217;i)<br />
____<br />
Jadikan ilmu syar&#8217;i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi&#8217;i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis</p>
<p>Yuk Segera Follow &amp; Pantau Media Kami:<br />
Website: darussalam.or.id<br />
Facebook: fb.me/darussalam.or.id<br />
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id<br />
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam<br />
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/06/jangan-ikut-ikutan-ini-amalan-muharram-yang-ada-dalilnya/">Jangan Ikut-ikutan! Ini Amalan Muharram yang Ada Dalilnya</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://darussalam.or.id/2026/06/jangan-ikut-ikutan-ini-amalan-muharram-yang-ada-dalilnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Puasa Dua Pahala, Boleh Ngga?</title>
		<link>https://darussalam.or.id/2026/06/satu-puasa-dua-pahala-boleh-ngga/</link>
					<comments>https://darussalam.or.id/2026/06/satu-puasa-dua-pahala-boleh-ngga/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2026 13:54:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://darussalam.or.id/?p=2597</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bismillah, washalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah, Sebentar lagi kita akan bertemu dengan hari Asyura, yaitu 10 Muharram. Bagi yang masih memiliki</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/06/satu-puasa-dua-pahala-boleh-ngga/">Satu Puasa Dua Pahala, Boleh Ngga?</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah, washalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah,<br />
Sebentar lagi kita akan bertemu dengan hari Asyura, yaitu 10 Muharram. Bagi yang masih memiliki utang qadha Ramadhan, mungkin terpikir untuk meniatkan qadha sekaligus puasa sunnah Asyura. Bisakah hal ini dilakukan?</p>
<p>Masalah ini dalam fikih disebut dengan istilah &#8220;tasyrik niat&#8221; (menggabungkan niat). Dalam kitab Idhahul Qawa&#8217;id Al-Fiqhiyyah [1], Syaikh Abdullah bin Said Al-Lahji menjelaskan beberapa model tasyrik niat. Dua di antaranya berkaitan dengan kasus ini:</p>
<h3>1&#xfe0f;&#x20e3; Menggabungkan Niat Ibadah Fardhu dengan Ibadah Sunnah</h3>
<p>Dalam model ini, sebagian kasus bisa membatalkan keduanya, semisal seseorang meniatkan shalat dua rakaat untuk shalat subuh dan shalat qabliyah subuh sekaligus. Namun di sebagian kasus yang lain, meniatkan dua ibadah dapat tercapai keduanya, semisal menggabungkan niat shalat subuh dan shalat tahiyyatul masjid.</p>
<p>Untuk kasus puasa sendiri, terdapat perbedaan pendapat di internal madzhab Syafi&#8217;i:</p>
<ul>
<li>Ulama belakangan seperti Zakariya Al-Anshari, Ibnu Hajar Al-Haitami, dan Ar-Ramli berpendapat bahwa seseorang <strong>bisa meniatkan puasa qadha bersamaan dengan puasa sunnah, sehingga ia mendapatkan pahala untuk keduanya</strong> [2,3]. Hal ini karena puasa sunnah disamakan dengan shalat tahiyyatul masjid.</li>
<li>Sementara itu, Al-Isnawi dan Al-Iraqi tidak sependapat. Beliau berdua menyatakan bahwa puasanya <strong>tidak sah</strong> jika seseorang meniatkan qadha dan puasa sunnah secara bersamaan [2].</li>
</ul>
<h3>2&#xfe0f;&#x20e3; Menggabungkan Niat Ibadah Sunnah dengan Ibadah Sunnah Lainnya</h3>
<p>Hal ini semisal seseorang meniatkan satu puasa untuk dua momentum sunnah sekaligus: puasa sunnah Asyura dan puasa sunnah hari Kamis. Pada kasus seperti ini, para ulama sepakat bahwa puasanya sah dan pelakunya mendapatkan pahala dari kedua amalan sunnah tersebut. [1]</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.<br />
Demikian, semoga Allah mudahkan kita semua dalam menjalankan ibadah kepada-Nya.</p>
<p>Sumber:<br />
[1]. Idhohul Qowaid Al Fiqhiyyah (34-37), Abdullah bin Said Al Lahjiy. Madrasah Saniyyah<br />
[2]. Ahkam Asyuro (19-20), Muhammad Barro Aliy.<br />
[3]. Fathul Mu&#8217;in (281), Ahmad Al Malibariy. Ibnu Hazm</p>
<p>____<br />
Dirangkum oleh: Rifki Nur (Santri Ma’had Darussalam Asy Syafi’i Angkatan 4)<br />
Muroja&#8217;ah: Ustadz Abu Husein Agus Waluyo (Mudir Ma&#8217;had Darussalam Asy-Syafi&#8217;i)<br />
____<br />
Jadikan ilmu syar&#8217;i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi&#8217;i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis</p>
<p>Yuk Segera Follow &amp; Pantau Media Kami:<br />
Website: darussalam.or.id<br />
Facebook: fb.me/darussalam.or.id<br />
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id<br />
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam<br />
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/06/satu-puasa-dua-pahala-boleh-ngga/">Satu Puasa Dua Pahala, Boleh Ngga?</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://darussalam.or.id/2026/06/satu-puasa-dua-pahala-boleh-ngga/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puasa Tasu&#8217;a dan Asyura, Jangan Lewatkan!</title>
		<link>https://darussalam.or.id/2026/06/puasa-tasua-dan-asyura-jangan-lewatkan/</link>
					<comments>https://darussalam.or.id/2026/06/puasa-tasua-dan-asyura-jangan-lewatkan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2026 05:38:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://darussalam.or.id/?p=2593</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap kita tentunya tidak mudah berlepas dari yang dosa dan kesalahan, bahkan mungkin dosa yang dilakukan bisa jadi muncul dari</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/06/puasa-tasua-dan-asyura-jangan-lewatkan/">Puasa Tasu&#8217;a dan Asyura, Jangan Lewatkan!</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap kita tentunya tidak mudah berlepas dari yang dosa dan kesalahan, bahkan mungkin dosa yang dilakukan bisa jadi muncul dari ujung rambut sampai ujung kaki, minimal dosa kecil yang dilakukan oleh setiap kita. Sebagaimana disebutkan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah bahwa setiap dosa itu mesti kita taubati dan harus kita mintakan ampun kepada Allah. Di dalam kitab Riyadhus Shalihin beliau menyampaikan</p>
<p>قَالَ العلماءُ: التَّوْبَةُ وَاجبَةٌ مِنْ كُلِّ ذَنْب</p>
<p>&#8220;Taubat itu wajib bagi setiap dosa (kecil maupun besar).&#8221; (Syarh Riyadhus Shalihin, 1/85)</p>
<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f530.png" alt="🔰" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Kenapa kita perlu taubati dan minta ampunan kepada Allah dari setiap dosa? Mari kita renungkan!</p>
<p>“Bapak” kita Nabi Adam alaihissalaam dahulu dikeluarkan oleh Allah dari surga itu disebabkan hanya karena satu dosa saja! Lalu bagaimana dengan kita yang bergelimang dosa, dosa kita banyak lagi beragam, bagaimana nasib kita?!</p>
<p>Tetapi Allah dengan kasih saying-Nya memberikan kita banyak kesempatan kepada kita untuk beramal satu amalan shalih yang sederhana ternyata berpahala besar dan bahkan ada penghapusan dosa. Di antaranya adalah <strong>shaum Asyura (tanggal 10 Muharram)</strong>.</p>
<p>Mari kita simak hadits berikut ini,</p>
<p>وعن ابن عباس رضي الله عنهما: أنَّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم صَامَ يَومَ عاشوراءَ وَأمَرَ بِصِيامِهِ. متفقٌ عَلَيْهِ.</p>
<p>_Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma &#8220;Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shaum asyura dan memerintahkan umatnya untuk melakukannya&#8221;._ (Muttafaq &#8216;alaihi)</p>
<p>Ganjaran dari shaum ini sangat luar biasa, mari kita simak hadits berikut ini,</p>
<p>وعن أَبي قتادة رضي الله عنه أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: ((يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ)). رواه مسلم.</p>
<p>_Dari Abu Qatadah radhiyallahu anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan shaum asyura, maka beliau menjelaskan &#8220;keutamaannya menghapus dosa satu tahun yang lalu&#8221;._ (HR. Muslim)</p>
<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f530.png" alt="🔰" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Bagaimana dengan puasa di tanggal 9 atau 11 Muharram?</p>
<p>وعن ابن عباس رضي الله عنهما، قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابلٍ لأَصُومَنَّ<br />
التَّاسِعَ)). رواه مسلم.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda &#8220;Jika aku masih hidup tahun depan, maka aku akan puasa di tanggal sembilannya&#8221;<br />
(HR. Muslim)</p>
<p>فيه: استحباب صيام تاسوعاء مع عاشوراء مخالفةً لأهل الكتاب، لأنهم كانوا يصومون اليوم العاشر فقط ويقولون إنه يومٌ نجى الله فيه بني إسرائيل من فرعون وقومه، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: ((نحن أحقُّ بموسى))، فصامه وأمر الناس بصيامه، وقال: ((خالفوا اليهود صوموا يومًا قبله أو يومًا بعده)).</p>
<p>Syekh Faishal bin Abdil Aziz rahimahullah menjelaskan &#8220;Dalam hadits tersebut terdapat anjuran untuk shaum tasu&#8217;a (tanggal 9) dan asyura (tanggal 10 Muharram) dalam rangka membedakan diri dengan ahli kitab (yahudi), karena mereka shaum pada tanggal 10 saja dan beralasan bahwasannya hari tersebut adalah hari diselamatkannya Bani Israil oleh Allah ta&#8217;a dari kejaran Fira&#8217;aun dan kaumnya. Maka Nabi Mengatakan &#8220;Kita lebih berhak untuk memuliakan Nabi Musa&#8221;, maka Nabi memerintahkan umatnya untuk shaum tanggal 10 Muharram dan berkata &#8220;Berbedalah dengan orang yahudi! shaumlah sehari sebelumnya (tanggal 9) atau sehari setelahnya (tanggal 11)&#8221;<br />
(HR. Ahmad, 1/241 dan Ibnu Khuzaimah no. 2095 disadur dari Tathriz Riyadhis Shalihin)</p>
<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f530.png" alt="🔰" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> *Pelajaran:*<br />
&#8211; Disunnahkan shaum Asyura (tanggal 10 Muharram)<br />
&#8211; Keutamaan shaum Asyura adalah dihapuskan dosa setahun yang lalu<br />
&#8211; Dianjurkan juga untuk shaum tanggal 9 (Tasu&#8217;a) atau tanggal 11, atau seluruhnya (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram) dalam rangka membedakan diri dari orang Yahudi yang juga puasa di tanggal 10 Muharram.</p>
<p>Allahu a&#8217;lam bis shawab</p>
<p>____<br />
Dirangkum oleh: Rido Rizki Ahad (Santri Ma’had Darussalam Asy Syafi’i Angkatan 3)<br />
Muroja&#8217;ah: Ustadz Abu Husein Agus Waluyo (Mudir Ma&#8217;had Darussalam Asy-Syafi&#8217;i)<br />
____<br />
Jadikan ilmu syar&#8217;i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi&#8217;i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis</p>
<p>Yuk Segera Follow &amp; Pantau Media Kami:<br />
Website: darussalam.or.id<br />
Facebook: fb.me/darussalam.or.id<br />
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id<br />
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam<br />
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam</p>
<p>The post <a href="https://darussalam.or.id/2026/06/puasa-tasua-dan-asyura-jangan-lewatkan/">Puasa Tasu&#8217;a dan Asyura, Jangan Lewatkan!</a> appeared first on <a href="https://darussalam.or.id">Darussalam Asy Syafii</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://darussalam.or.id/2026/06/puasa-tasua-dan-asyura-jangan-lewatkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching 3/61 queries in 0.029 seconds using Disk

Served from: darussalam.or.id @ 2026-09-14 00:54:50 by W3 Total Cache
-->