The post Kapan Menghapus ‘Aid (عائد) pada Shilah Maushul appeared first on Darussalam Asy Syafii.
]]>Ibnu Aqil menjelaskan, baik ism maupun huruf maushul harus memiliki shilah yang menjelaskan makna maushul tersebut. Tidak hanya itu, disyaratkan juga pada shilahnya terkandung dhomir yang cocok dengan maushul; atau yang dinamakan dengan aid (عائد). Ibnu Malik mengatakan dalam alfiyahnya:
وكلها يلزم بعده صله
— على ضمير لائق مشتمله
Sebagai gambaran, Allah berfirman:
{ صِرَ ٰطَ ٱلَّذِینَ أَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِمۡ غَیۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَیۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّاۤلِّینَ }
[Surah Al-Fātihah: 7]
Maka, الذين merupakan ism maushul untuk jama mudzakkar. Pada kalimat setelahnya, terdapat dhomir yang cocok yaitu ـهم pada kata عليهم. Dengan demikian, itulah ‘aidnya.
Akan tetapi, terdapat beberapa kondisi dihapusnya ‘aid tersebut. Ada yang wajib, ada yang boleh.
Akan tetapi disyaratkan dalam hal ini, khobarnya adalah mufrod. Jika khobarnya jumlah atau syibhul jumlah, maka tidak boleh dihapus mubtada pada shilah. Contohnya pada kalimat جاء الذي هو يقوم atau جاء الذي هو عندك. Tidak boleh menjadi الذي يقوم atau الذي عندك.
Akan tetapi, terdapat syarat juga bolehnya dihapus aid ini, yaitu tidak adanya dhomir lain pada shilah yang bisa menjadi aid baru. Contohnya, جاء الذي ضربته في داره. Maka, tidak boleh dhomir ha pada ضربته dihapus karena terdapat dhomir lain yang menggantikannya itu ha pada داره.
Namun, terdapat syarat dihapusnya aid dalam kondisi ini, yaitu ism failnya harus bermakna haal atau mustaqbal. Dengan demikian jika masa lampau, tidak boleh aid dihapus. Contohnya, جاء الذي أنا ضاربه أمس.
Maka, seperti pada contoh, disyaratkan bolehnya dihapus aid, jika huruf jar pada aid ( *من* ـه), itu sama dengan huruf jar pada maushul ( *من* ـما) dan keduanya pun muta’alliq dengan fi’il yang memiliki akar kata yang sama (يشرب dengan تشربون).
Dengan demikian, terdapat satu kondisi aid wajib dihapus dan empat kondisi aid boleh dihapus. Adapun diluar 5 kondisi tadi, aid tetap harus muncul pada shilah maushul.
Wallahu’alam
Sumber: Syarah Ibnu Aqil Juz 1: 113-121. Dar Ibnu Katsir|
Rifki Nur ( Santri Ma’had Darussalam angkatan 4 )
——
Silakan follow media kami berikut untuk mendapat update terkait Mahad Darussalam
Web: darussalam.or.id
FB: fb.me/darussalam.or.id
IG: instagram.com/darussalam.or.id
YT: youtube.com/mahaddarussalam
WA: chat.whatsapp.com/F5udYkGAB10KWmOTfbbI4h
The post Kapan Menghapus ‘Aid (عائد) pada Shilah Maushul appeared first on Darussalam Asy Syafii.
]]>The post Memilih Antara Dhomir Muttashil atau Munfashil appeared first on Darussalam Asy Syafii.
]]>

Sudah diketahui bahwa dhomir terbagi menjadi dua, muttashil dan munfashil. Perbedaannya dilihat dari bisa tidaknya dhomir tersebut muncul di awal dan muncul setelah illa (إلا). Jika tidak bisa, itulah muttashil. Ibnu Malik mengatakan:
وذو *اتصال* منه ما *لا يبتدا*
— و *لا يلي إلا* ….
Tetapi, dua macam dhomir ini, bisa mempunyai mahal i’rab yang sama. Sebagai contoh, ka(ـك) dan iyyaka (إياك) yang keduanya bermahal nashob. Lantas, mana yang kita pilih, semisal antara أكْرَمْتُك atau أكْرَمْتُ إياك ?
Secara asal, kaedahnya adalah “jika memungkinkan dhomir muttashil, tidak boleh memakai dhomir munfashil“, sebagaimana Ibnu malik mengatakan
وفي اختيار لا يجيء المنفصل
— إذا *تأتى* أن يجيء المتصل
Terkait pertanyaan di atas, Ibnu Aqil menjelaskan dalam syarah bait tersebut: “.. engkau tidak berucap menggunakan kalimat أكْرَمْتُ إياك karena mungkin bagimu untuk menggunakan dhomir muttashil sehingga engkau katakan أكرمتك.”
Ini dalam kasus kita ingin dhomir nashob tersebut di belakang kalimat. Namun, jika kita menginginkan dhomirnya di awal, tidak ada pilihan selain munfashil karena dhomir muttashiltidak mungkin di awal, sebagaimana sudah dijelaskan. Oleh karena itu, pada Quran kita ketahui ada ayat إياك نعبد.
Namun, terdapat dua kasus yang membolehkan menggunakan dhomir munfashil padahal bisa menggunakan dhomir muttashil.
Lebih lanjutnya para ahli nahwu berbeda pendapat, mana yang lebih rojih: apakah dhomir muttashil atau munfashil. Tapi, sebagaimana dijelaskan keduanya boleh. Ibnu Malik berkata dalam alfiyahnya:
و *صل أو افصل* هاء *سلنيه* وما
— أشبهه في *كنته* خلف تمى
كذاك *خلتنيه* ، واتصالا
— أختار ، غيري اختار الانفصالا
Wallahu a’lam
Penulis: Rifki Nur ( Santri Ma’had Darussalam angkatan 4 )
Sumber:
Syarh Ibnu Aqil. Jilid 1: 63-74. Dar Ibnu Katsir
——
Silakan follow media kami berikut untuk mendapat update terkait Mahad Darussalam
Web: darussalam.or.id
FB: fb.me/darussalam.or.id
IG: instagram.com/darussalam.or.id
YT: youtube.com/mahaddarussalam
WA: chat.whatsapp.com/F5udYkGAB10KWmOTfbbI4h
The post Memilih Antara Dhomir Muttashil atau Munfashil appeared first on Darussalam Asy Syafii.
]]>The post Rincian Huruf أن Pada Af’al Muqarabah appeared first on Darussalam Asy Syafii.
]]>أحدها: ما دل على المقاربة وهي كاد وكرب وأوشك
والثاني: ما دل على الرجاء وهي عسى وحرى واخلولق
والثالث: ما دل على الإنشاء وهي جعل وطفق وأخذ وعلق وأنشأ
Sehingga total ada 11 af’al muqarabah yang disebutkan oleh Qadhi Ibn Aqil dalam kitab Syarah Ibn Aqil ‘Ala Alfiyah Ibn Malik.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menambah satu fiil lagi dalam jenis ketiga (af’al syuru’) yaitu fiil شرع dimana beliau menyampaikan dalam Syarah Alfiyah Ibn Malik juz 1 halaman 580 :
ومن ذلك أيضا: (شرع)، فلا يمكن أن تخرج (شرع) من أفعال الشروع، تقول: شرع يفعل كذا و كذا
Yang termasuk dalam af’al jenis ketiga adalah fiil شرع, karena jelas tidak mungkin engkau keluarkan fiil شرع dari af’al syuru’, engkau katakan : dia mulai melakukan ini dan itu.
Masih dalam kitab yang sama Syaikh Utsaimin kemudian menyampaikan secara singkat terkait kapan berlakunya huruf أن pada af’al muqarabah.
الأول : ما يجب اقترانه ب(أن) و هو اثنان و هما : (حرى، واخلولق)
الثاني : ما يمتنع اقترانه ب(أن) و هو أفعال الشروع الخمسة و هي (أنشأ، وطفق، وجعل، وأخذ، و علق)
الثالث : ما يكثر اقترانه ب(أن) و هو اثنان و هما (عسى، وأوشك)
الرابع : ما يقل اقترانه ب(أن) و هو اثنان و هما (كاد، وكرب)
Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.
الله أعلم
Yurifa Iqbal (santri Ma’had Darussalam Asy Syafi’i angkatan 3)
Murajaah : Ustadz Agus Abu Husain
The post Rincian Huruf أن Pada Af’al Muqarabah appeared first on Darussalam Asy Syafii.
]]>The post 3 Macam Alif Lam Yang Memakrifatkan appeared first on Darussalam Asy Syafii.
]]>Contoh alif lam yang masuk pada suatu kata dalam bahasa arab adalah
الرَّجُلُ
(ar-rajulu artinya seorang laki-laki) yang mana jika tidak dimasuki alif lam menjadi rajulun :
رَجُلٌ
Ketika suatu kata yang dalam bahasa arab yang diistilahkan dengan isim dimasuki alif lam, maka isim tersebut menjadi makrifat. Alif lam yang menjadikan makrifat ini terbagi menjadi 3 macam sebagaimana penjelasan dalam kitab
شرح ابن عقيل على ألفية ابن مالك
juz 1 halaman 122 – 123 penerbit Dar Ibn Katsir berikut :
والألف واللام المعرفة تكون
Alif lam yang memakrifatkan terbagi menjadi 3 macam :
للعهد كقولك لقيت رجلا فأكرمت الرجل
Lil ahdi (yang sudah disebutkan sebelumnya), seperti ucapanmu : saya berjumpa dengan seorang laki-laki kemudian saya muliakan laki-laki tersebut.
Maka alif lam yang masuk pada kata ar rajulu ini adalah lil ahdi karena rajulun sudah disebutkan sebelumnya. Contoh di Al Quran ada pada firman Allah dalam surat Al Muzammil ayat 15 – 16 :
وقوله تعالى: ﴿كما أرسلنا إلى فرعون رسولا فعصى فرعون الرسول
sebagaimana dulu Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir’aun, ternyata Fir’aun mendurhakai Rasul itu.
Maka ar rasul yang ada alif lam ini adalah rasul yang juga telah disebutkan sebelumnya!
Sekali lagi alif lam ini berfungsi sebagai lil ahdi (yang sudah disebutkan sebelumnya) yang secara lebih spesifik dinamakan alif lam lil ahdi dzikri.
Sebagai tambahan dan penyempurna faedah, selain alif lam lil ahdi dzikri, juga ada alif lam yang dinamakan lil ahdi dzihni dan lil ahdi hudhuri.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab
شرح ألفية ابن مالك
juz 1 halaman 368 Maktabah Ar Rusyd menjelaskan :
والتي للعهد تكون للعهد الذكري، والعهد الذهني، والعهد الحضوري
Alif lam lil ahdi ini terdiri dari ahdi dzikri, ahdi dzihni, dan ahdi hudhuri.
فأما التي للعهد الذهني فهو ما كان معهودا بين الناس في أذهانهم مثل : قال النبي، فالنبي معهود ذهنا و هو محمد صلى الله عليه وسلم
Adapun alif lam lil ahdi dzihni adalah apa-apa yang telah umum dikenal dalam benak orang-orang contohnya An Nabi bersabda (قال النبي), maka Nabi yang dimaksud disini telah umum dikenal dalam benak orang-orang yaitu Rasulullah Muhammad ﷺ.
وأما التي للعهد الذكري فهي التي تعود إلى شيء سابق مثل قوله تعالى: ﴿كما أرسلنا إلى فرعون رسولا فعصى فرعون الرسول
Adapun alif lam lil ahdi dzikri adalah alif lam yang terdapat pada kata yang sudah disebutkan sebelumnya sebagaimana firman Allah surat Al Muzammil ayat 15-16 : dulu Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir’aun, ternyata Fir’aun mendurhakai Rasul itu.
وأما التي للعهد الحضوري فيكثر ذلك في كل محلى ب(أل) يأتي بعد اسم الإشارة، فكل محلى ب(أل) يأتي بعد اسم الإشارة فهو للهعد الحضوري، تقول ذاك الرجل، ذلك الكتاب
Adapun alif lam lil ahdi hudhuri banyak terdapat pada kata yang dimasuki alif lam yang disebut setelah isim isyarah (kata penunjuk), maka semua kata yang dimasuki alif lam yang disebut setelah isim isyarah (kata tunjuk) adalah lil ahdi hudhuri, contohnya ini laki-laki, itu adalah kitab.
إنه عهد حضوري لأن الإشارة تكون إلى شيء حاضر
Disebut lil ahdi hudhuri karena kata tunjuk menandakan sesuatu yang ada saat ini.
ولاستغراق الجنس نحو إن الإنسان لفي خسر
Lilistighraq al jinsi (mencakup semua jenis anggota), contohnya ayat Al Quran surat Al ‘Ashri ayat kedua : sesungguhnya semua manusia berada dalam kerugian.
وعلامتها أن يصلح موضعها كل
Adapun tanda alif lam lilistighraq al jinsi adalah posisi alif lam bisa ditempati lafazh kullun (كُلٌّ) sehingga kalimatnya menjadi :
إن كل إنسان
Sesungguhnya semua manusia…
ولتعريف الحقيقة نحو الرجل خير من المرأة أي هذه الحقيقة خير من هذه الحقيقة
Lita’rifil haqiqah (menunjukkan hakikat), contohnya : laki-laki lebih baik daripada perempuan yaitu hakikat laki-laki lebih baik daripada perempuan.
Kemudian perlu diketahui juga bahwa alif lam lita’rifil haqiqah (menunjukkan hakikat) ini tidaklah mencakup seluruh individu atau anggota! Dalam contoh tadi bukan berarti semua individu laki-laki lebih baik dari semua individu perempuan!
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab
شرح ألفية ابن مالك
juz 1 halaman 367 Maktabah Ar Rusyd menjelaskan :
الرجل خير من المرأة، يعني : جنس الرجال خير من جنس النساء
Maksud dari laki-laki lebih baik daripada perempuan adalah jenis laki-laki lebih baik daripada jenis perempuan.
فالتي لبيان الحقيقة لا تقتضي الشمول، لأننا إذا قلنا الرجل خير من المرأة، لا يستلزم أن كل واحد من الرجال خير من من كل امرأة
Maka alif lam yang menjelaskan hakikat ini tidaklah mencakup keseluruhan, oleh sebab itu apabila kita katakan laki-laki lebih baik daripada perempuan, tidak mengharuskan setiap individu laki-laki lebih baik daripada setiap individu perempuan! Tidak seperti itu!
لكن هذا الجنس على هذا الجنس
Akan tetapi maksudnya adalah jenis laki-laki lebih baik daripada jenis perempuan.
Demikian pembahasan ringkas terkait 3 macam alif lam yang memakrifatkan ini. Semoga bermanfaat.
و الله تعالى أعلم بالصواب
Yurifa Iqbal (santri Ma’had Darussalam Asy Syafi’i angkatan 3)
Murajaah : ustaz Agus Abu Husain
—–
Ingin belajar Nahwu & Sharaf Dasar di Mahad Darussalam? Yuk daftar di Program Online Bahasa Arab Nahwu Sharaf Dasar
Silakan disebarkan dan follow media kami untuk mendapat update terkait Mahad Darussalam
Web: darussalam.or.id
FB: fb.me/darussalam.or.id
IG: instagram.com/darussalam.or.id
YT: youtube.com/mahaddarussalam
WA: chat.whatsapp.com/F5udYkGAB10KWmOTfbbI4h
The post 3 Macam Alif Lam Yang Memakrifatkan appeared first on Darussalam Asy Syafii.
]]>The post Hukum Mempelajari Ilmu Nahwu, Antara Fardhu Kifayah & Fardhu Ain, Benarkah? appeared first on Darussalam Asy Syafii.
]]>Ilmu nahwu merupakan salah satu ilmu terkait bahasa Arab.
Di dalam kitab
الدرة البهية على متممة الآجرومية
halaman 11 disampaikan pengertian ilmu nahwu :
علم بأصول مستنبطة من كلام العرب يعرف بها أحوال أواخر الكلم إعرابا و بناء
Ilmu yang membahas pokok-pokok (dasar-dasar) bahasa Arab yang digali dari perkataan Arab agar bisa diketahui keadaan akhir kata dalam bahasa Arab dari segi i’rob (berubah) dan mabni (tetap).
Lalu bagaimana hukum mempelajarinya?
Di dalam kitab
المختصر في النحو
halaman 14 disampaikan :
حكم الشارع في تعلمه و تعليم علم النحو فرض كفاية إذا قام به من يكفي سقط عن الباقين
Hukum mempelajari ilmu nahwu dan mengajar ilmu nahwu dalam pandangan syariat adalah fardhu kifayah yang apabila fardhu kifayah tersebut telah dilakukan oleh sebagian umat Islam secara memadai maka umat Islam lainnya tidak dituntut melakukannya.
Hal yang sama juga dijelaskan dalam kitab
الدرة البهية على متممة الآجرومية
halaman 12 dengan tambahan penjelasan :
وحكمه : الوجوب الكفائي, و قد يتعين على بعض دون بعض كمن أراد تفسير القرآن الكريم
Hukum mempelajari ilmu nahwu adalah fardhu kifayah, namun terkadang hukumnya adalah fardhu ain bagi sebagian umat Islam contohnya adalah bagi siapapun yang ingin menafsirkan Al Qur’an maka fardhu ain hukumnya mempelajari ilmu nahwu.
Kesimpulannya adalah mempelajari ilmu nahwu hukumnya fardhu kifayah.
Namun bagi siapapun yang mau menafsirkan Al Qur’an fardhu ain hukumnya mempelajari ilmu nahwu! Kalau ada yang mau menafsirkan Al Qur’an & menjelaskan Al Qur’an namun tidak mempelajari ilmu nahwu jelas berdosa!
Demikian pula bagi siapapun yang ingin memperdalam tsaqafah Islam seperti menjelaskan hadits-hadits Rasulullah Muhammad ﷺ, melakukan tarjih antar dalil, melakukan ijtihad fiqih, membandingkan berbagai pendapat para fuqaha kemudian menguatkan salah satunya maka fardhu ain hukumnya mempelajari dan mengilmui ilmu nahwu serta cabang ilmu bahasa Arab lainnya.
Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.
و الله تعالى أعلم بالصواب
Yurifa Iqbal (santri Ma’had Darussalam Asy Syafi’i angkatan 3)
Murajaah : ustaz Agus Abu Husain
—–
Ingin belajar Nahwu & Sharaf Dasar di Mahad Darussalam? Yuk daftar di https://dars.darussalam.or.id/register
Silakan disebarkan dan follow media kami untuk mendapat update terkait Mahad Darussalam
Web: darussalam.or.id
FB: fb.me/darussalam.or.id
IG: instagram.com/darussalam.or.id
YT: youtube.com/mahaddarussalam
WA: chat.whatsapp.com/F5udYkGAB10KWmOTfbbI4h
The post Hukum Mempelajari Ilmu Nahwu, Antara Fardhu Kifayah & Fardhu Ain, Benarkah? appeared first on Darussalam Asy Syafii.
]]>The post 3 Alasan Mengapa Fail I’rabnya Rafa’ appeared first on Darussalam Asy Syafii.
]]>1⃣ Untuk membedakan antara fail dan maf’ul bih yang jika tidak di’irab rafa’ bisa jadi maf’ul bih disangka fail.
2⃣ Fail marfu’ karena fail itu kuat, sedangkan maf’ul bih itu manshub karena lemah. Maksud fail itu kuat karena selalu membersamai fiil dan fiil tidak bisa terlepas dari fail. Ini berbeda dengan maf’ul bih yang bisa dihilangkan dari fiil, seperti kalimat ضرب زيد sudah bisa berdiri sendiri tanpa menyebutkan maf’ul bih, berbeda halnya jika fail dihilangkan maka tidak ada yang bisa menggantikannya, seperti jika kalimatnya ضرب زيدا tanpa ada fail.
Karena fail itu lebih kuat dan maf’ul bih itu lebih lemah sedangkan dhommah itu lebih kuat daripada fathah karena dhommah itu dari wawu sedangkan fathah itu dari alif sedangkan wawu lebih kuat daripada alif karena makhraj wawu lebih sempit daripada alif oleh karena itu wawu bisa diberi harakat berbeda dengan alif yang tidak boleh diberi harakat karena makrajnya luas.
Berdasarkan fakta ini, maka yang lebih kuat ( fail ) dipasangkan dengan yang lebih kuat ( dhommah ) dan yang lebih lemah ( maf’ul ) dipasangkan dengan yang lebih lemah ( fathah ).
3⃣ Fail lebih sedikit daripada maf’ul bih karena fiil hanya bisa memiliki satu fail akan tetapi bisa memiliki maf’ul bih banyak, bahkan bisa ditambah dengan maf’ul yang lain seperti maf’ul mutlak, dharaf zaman, dharaf makan, maf’ul li ajlih, maf’ul ma’ah, haal dan istitsna’. Karena dhommah itu lebih berat daripada fathah, maka fail yang jumlahnya sedikit dipasangkan dengan i’rab rafa’ yang berat dan maf’ul yang bisa banyak jumlahnya dipasangkan dengan i’rab nashab yang ringan.
Disarikan dari Syarah al-Mufasshal I/201-202
Ustadz Agus Abu Husain hafidzahullahu
Barakallahu fiikum
Silahkan dibagikan semoga bermanfaat
_____________________________________________
Mari belajar bersama dan mengambil faedah dengan mengunjungi dan mengikuti




website: darussalam.or.id
facebook: darussalam.or.id
instagram: darussalam.or.id
youtube: mahaddarussalam
Jazakumullahu Khairan

The post 3 Alasan Mengapa Fail I’rabnya Rafa’ appeared first on Darussalam Asy Syafii.
]]>