Sedekah Terbaik Setelah Diri Sendiri? Keluargamu!

SAMA KELUARGA PELITNYA MINTA AMPUN, TAPI SAMA TEMAN-TEMAN ROYAL 

Sebuah Pola Pikir yang Terbalik

Di zaman sekarang, fenomena ini cukup sering kita dengar dan lihat. Ada orang-orang yang gampang traktir teman, royal di tongkrongan, tapi giliran orang tua atau keluarga sendiri malah serba perhitungan mbulet bin njlimet. 

Sekilas terlihat “baik” karena suka memberi dan dermawan, tapi kalau ditelisik lebih dalam ini bisa jadi pertanda ada yang tidak beres dalam pengaturan prioritas hidupnya.

Islam tidak hanya mengajarkan untuk gemar memberi, tapi juga mengatur skala prioritas tentang “siapa yang paling berhak didahulukan dalam pemberiannya”.

Nafkah ke Keluarga Itu Prioritas, Bukan Opsional

Allah  berfirman, 

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ 

 Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik“ 
(Q.S. Al Baqarah: 233) 

Pemaknaan “ayah” dalam ayat di atas diungkap dengan redaksi maulud lahu, disebut ayah karena ada anak yang dilahirkan oleh istrinya, jika istri yang melahirkan anak ini saja wajib diberi nafkah, maka sudah secara logika anaknya ini juga tentunya wajib dinafkahi. 

Rasulullah pernah memerintahkan shahabiah Hindun binti Utbah untuk mengambil harta suaminya meskipun tanpa izin guna memenuhi kebutuhan sehari-hari karena suaminya sangat pelit tidak memberikan nafkah yang cukup bagi dirinya dan juga anaknya,

خُذِي مَا يَكْفِيْكِ وَ وَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ 

Ambilah (dari harta suamimu) apa yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan juga anakmu dengan kadar yang ma’ruf (selayaknya – pent)
(HR. Al-Bukhari 3825 dan Muslim 1714 – dorar.net) 

Diperbolehkan istri “mengambil harta suami tanpa sepengetahuannya” dengan tujuan agar “kewajiban nafkah” sang suami bisa tertunaikan. Ini menunjukkan bahwa pemberian nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga itu hukumnya WAJIB.

 Allah  berfirman, 

يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ 

Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan
(Q.S. Al-Baqarah 215) 

Ayat ini jelas: orang tua dan kerabat itu di urutan awal, bukan teman, bukan circle, bukan geng tongkrongan. 

Bukan tindakan yang gentleman jika suami royal suka nraktir makan enak teman-temannya agar terlihat baik, hebat dan dermawan sementara istri dan anak-anaknya di rumah harus makan seadanya sambil “mengikat perutnya” menahan lapar. 

Kalau masih ada orang tua yang butuh, atau keluarga yang kekurangan, tapi kita malah sibuk “baik” dan “dermawan” ke orang lain itu “kebaikan yang cacat” dan tidak tepat sasaran. 

Sedekah untuk Keluarga dan Kerabat Lebih Besar Nilainya (Double Reward) 

Rasulullah  bersabda,

الصدقةُ على المسكينِ صدقةٌ وعلى ذي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ صدقةٌ وصِلَةٌ 

Sedekah untuk fakir miskin dihitung satu sedekah, sedangkan untuk kerabat itu dihitung dua: berpahala sedekah dan menyambung silaturahmi
(At-Tirmidzi 658, An-Nasa’i 2582, Ibnu Majah 1844, Ahmad 16278 – dorar.net) 

Jadi kalau seseorang malah lebih royal ke teman daripada keluarga yang juga butuh, maka dia sedang meninggalkan pahala yang lebih besar.

Nafkah ke Keluarga Itu Salah Satu Sedekah Terbaik 

Rasulullah  bersabda,

أفضَلُ دينارٍ يُنفِقُه الرَّجُلُ دينارٌ يُنفِقُه على عيالِه 

Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang kepada keluarganya.
(HR Muslim 944 – dorar.net ) 

Karena nafkah kepada keluarga bukan sekadar menunaikan kewajiban tapi juga ladang pahala yang terbaik. 

Lantas Bagaimana Skala Prioritas yang Benar?

Dalam hadits dari Jabir bin Abdillah Rasulullah  bersabda, 

ابدأ بنفسِك فتصدق عليها فإن فضل شيءٌ فلأهلِك فإن فضل عن أهلِك شيءٌ لذوي قرابِتك فإن فضل شيءٌ عن ذي قرابِتك فهكذا وهكذا يَقُولُ فَبَيْنَ يَدَيْكَ وَعَنْ يَمِينِكَ وَعَنْ شِمَالِكَ 

 Mulailah dengan dirimu sendiri, nafkahkan untuknya, lalu jika ada sisa, maka nafkahkan untuk istrimu. Jika dari nafkah istrimu ada sisa, maka nafkahkan untuk kerabatmu. Jika dari nafkah kerabatmu ada sisa, maka lanjutkan sebagaimana yang demikian untuk yang berikut dan berikutnya”  

Perawi berkata: Maka yang selanjutnya nafkahkanlah kepada tetangga depanmu, kemudian kanan dan kirimu.
(HR. Muslim 997) 

Imam An-Nawawi mengomentari, 

 فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَوَائِدُ مِنْهَا الِابْتِدَاءُ فِي النَّفَقَةِ بِالْمَذْكُورِ عَلَى هَذَا التَّرْتِيبِ 

 Dalam hadits ini terdapat banyak faedah, diantaranya adalah hendaknya memulai pemberian nafkah (termasuk sedekah – pent) sesuai urutan yang disebutkan secara tertib.
(Syarh An-Nawawi ‘Ala Muslim 7:83 – Syamilah)

Dalam kitabnya Umdatus Salik syaikh Ibnu Naqib Al-Mishri menyebutkan, 

يجبُ على الشَّخصِ –ذكراً كانَ أو أنثى– إذا فَضَلَ عنْ نفقتِهِ ونفقةِ زوْجتِهِ أنْ يُنفقَ  على الآباء والأمَّهاتِ وإنْ علَوْا منْ أيَّ جهةٍ كانوا، وعلى الأولادِ وأولادهم وإنْ سفلوا،
(عمدة السالك٦١٨) 

Wajib bagi seorang laki-laki maupun perempuan jika ada sisa dari nafkah untuk dirinya sendiri dan istrinya untuk menafkahi bapak dan ibunya berlanjut ke arah atas silsilah dari semua sisi. Dan juga kepada anak-anaknya dan keturunan mereka ke bawah.
(Umdatus Salik: 618) 

Walhasil jika harta kita tidak mencukupi untuk semuanya maka didahulukan pemberian nafkah dari yang wajib terlebih dahulu baru jika tersisa bisa bergeser ke yang sifatnya anjuran, mulailah dari: 

  1. Diri sendiri 
  2. Istri
  3. Anak 
  4. Ibu 
  5. Bapak
  6. Kerabat
  7. Orang lain dimulai dari yang dekat (menurut urgensi kebutuhannya) 

Perhatian! 

Royal ke teman-teman namun pelit untuk kebutuhan anak, istri dan orangtua merupakan salah satu bentuk Menelantarkan Keluarga. 

Rasulullah  bersabda, 

كَفى بالمَرءِ إثمًا أن يَحبِسَ عَمَّن يَملِكُ قُوتَه 

Cukuplah berdosa bagi seseorang yang menahan nafkah dari orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.
(Shahih Muslim 996 – dorar.net) 

Jadi kalau ada orang yang,
– Royal dermawan ke teman,
– Tapi pelit ke istri, anak, atau orang tua, spp nunggak berbulan-bulan.
Itu bukan sekadar “kurang baik” tapi bisa masuk kategori dosa yang serius. 

 Coba pikir dengan logika sederhana: 

  • Siapa yang paling berjasa dalam hidupmu?  → Orang tua dan keluarga 
  • Siapa yang hidupnya paling terkait denganmu? → Keluarga dan orangtua 
  • Siapa yang akan tetap ada mendukungmu saat engkau gagal dan terpuruk lalu semua teman pergi? → Keluarga dan orangtua 
  • Siapa yang akan tetap setia merawatmu tanpa pamrih saat kamu sakit? → Keluarga dan orangtua 

Lantas mengapa yang dekat justru diabaikan? Yang jauh malah diprioritaskan? 

Ini bukan soal pelit atau dermawan. Ini soal urutan prioritas yang kebalik. 

Jangan Sampai kita menjadi orang dengan label “Baik di Luar, Zalim di Dalam”  

Ada orang terlihat baik di luar, dermawan dan royal di tongkrongan, suka bantu teman, tapi di rumah, orang tua diabaikan, keluarga kekurangan, nafkah ditahan-tahan.

Ini adalah jebakan setan yang berbahaya, karena terlihat saleh di mata manusia tapi bermasalah di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. 

Menjadi dermawan itu bagus. Tapi dalam Islam, dermawan tanpa memahami skala dan urutan prioritas bisa jadi salah arah dan salah kaprah.

Karena dalam Islam, kebaikan itu bukan hanya soal seberapa banyak bisa memberi, tapi juga kepada siapa kamu mendahulukan pemberian sesuai prioritas yang diajarkan Islam.

Wallahua’lam bisshowwab
Wa Shallallahu ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam 

 ____ 

Dirangkum oleh: Susilo (Santri Ma’had Darussalam Angkatan – 4)
Muroja’ah: Ustadz Abu Husein Agus Waluyo (Mudir Ma’had Darussalam Asy-Syafi’i) 

____ 

Jadikan ilmu syar’i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi’i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis 

 Yuk Segera Follow & Pantau Media Kami: 

Website: darussalam.or.id
Facebook: fb.me/darussalam.or.id
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *