Hijrah, apa itu hijrah?

Ibnu ‘Allan menjelaskan tentang hakikat hijrah, dalam anotasi terhadap hadits pertama dalam Riyadhus Sholihin.

والهجرة لغة؛ الترك، وشرعًا؛ مفارقة دار الكفر إلى دار الإسلام خوف الفتنة، ووجوبها باق وخبر «لا هجرة بعد الفتح» المراد لا هجرة بعد فتح مكة منها لأنها صارت دار الإسلام. وحقيقتها مفارقة ما يكرهه الله إلى غيره للحديث المذكور، وكانت أول الإسلام إما من مكة إلى الحبشة أو منها ومن غيرها إلى المدينة

Hijrah kalau dilihat murni dari makna bahasa arab bermakna “meninggalkan, pergi, atau berpisah”

Adapun hijrah, jika kita lihat dengan kacamata syariat islam bermakna :
Pergi berpisah dan meninggalkan negeri kafir menuju negeri muslim atau negerinya kaum muslimin, dimana perpisahan ini dilakukan karena dirinya takut terkena kerusakan (seperti terkena syubhat kesyirikan, syahwat, kemunduran akhlak negeri barat, dan semisalnya).

Hijrah tetap merupakan sebuah kewajiban sampai datangnya hari kiamat.

Adapun sabda Nabi yang artinya “Tidak ada hijrah setelah fathu makkah”, maka dimaknai dengan ” Tidak ada hijrah meninggalkan Makkah setelah terjadi fathul makkah, karena sekarang makkah telah menjadi negeri islam”.

Namun jika kita renungi jauh-jauh lebih dalam, akan kita dapati bahwa hijrah sejati adalah “Berpisah dengan berbagai hal yang dibenci Allah, kepada hal yang Allah cintai”.

Pada zaman Nabi, hijrah telah terjadi dari Makkah menuju Habasyah (Ethiopia), kemudian hijrah juga terjadi menuju kota Madinah.

Terjemah bebas dari Dalilul Falihin Syarah Riyadhus Shalihin, karya Imam Ibnu ‘Allan Asy-Syafi’i Al-Makki

——-

Ditulis oleh Dany Permana, santri Ma’had Darussalam Asy-Syafi’i angkatan 2.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *