NIATNYA BERBAKTI TAPI MALAH GAK SAH? CEK ATURAN KURBAN UNTUK ORANG MENINGGAL!
Menimbang Hukum Wasiat dan Batasan Pahala Sedekah untuk Orang yang Telah Wafat
Sebagai seorang anak, rasa rindu dan cinta kepada orang tua yang sudah wafat tentu tidak akan pernah padam. Menjelang Idul Adha, sering kali muncul niat mulia di dalam hati kita: ‘Tahun ini, aku ingin membelikan hewan kurban atas nama mendiang Ayah atau Ibu.’ Kita berharap amalan ini bisa menjadi hadiah terbaik untuk mereka.
Namun, di sela-sela niat baik tersebut, sebagian dari kita mungkin mulai merasa cemas dan overthinking: ‘Apakah kurban untuk orang yang sudah meninggal itu otomatis sah?
Ternyata, para Fuqaha Asy Syafi’iyyah memiliki pembahasan yang sangat detail mengenai masalah ini, agar bakti kita kepada orang tua tetap tegak di atas ilmu yang lurus dan tidak salah langkah.
Di dalam kitab المنهاج القويم على المقدمة الحضرمية terbitan Darul Kutub Ilmiah halaman 308 tertulis :
ولا يضحي أحد عن حي بلا إذنه ولا عن ميت لم يوص
Dan seseorang tidak boleh berqurban untuk orang yang masih hidup tanpa seizinnya dan tidak boleh pula seseorang berqurban untuk orang yang sudah meninggal tanpa ada wasiat dari orang yang meninggal tersebut.
Keterangan yang hampir sama dapat juga kita temukan dalam kitab إعانة الطالبين terbitan Darul Kutub Islamiyah juz 2 halaman 590 sebagai berikut :
ولا يضحي أحد عن غيره بلا إذنه في الحي وبلا إيصائه في الميت. فإن فعل ولو جاهلا لم يقع عنه ولا عن المباشر
Dan seseorang tidak boleh berqurban untuk orang lain yang masih hidup tanpa seizinnya dan tidak boleh pula seseorang berqurban untuk orang yang sudah wafat tanpa ada wasiat sebelumnya dari orang yang meninggal tersebut. Jikalau qurban untuk mereka tetap dilakukan oleh seseorang tersebut meskipun dia sebetulnya dalam kedaaan tidak mengetahui bahwa hukumnya terlarang/tidak sah, maka tidak teranggap sebagai qurban baik untuk orang yang sudah meninggal maupun bagi orang yang melakukannya.
Namun ternyata ada juga pendapat dalam madzhab Imam Asy Syafi’i yang mengatakan qurban untuk orang yang sudah meninggal tetap sah meskipun tanpa ada wasiat sebelumnya.
Di dalam kitab المعتمد في الفقه الشافعي terbitan Darul Qalam juz 2 halaman 490 dijelaskan :
ولا تصح التضحية عن ميت لم يوص بها فإن أوصى جاز، وقيل : تصح التضحية عن الميت و إن لم يوص بها لأنها ضرب من الصدقة فتصح عن الميت و تنفعه
Tidak diperkenankan (baca tidak sah) berqurban untuk orang yang sudah meninggal yang sebelumnya tidak memberikan wasiat, adapun jika sebelum meninggal ada wasiat, maka hukumnya boleh berqurban untuk orang yang sudah meninggal, tapi ada pendapat (meskipun redaksinya menggunakan قيل, dikatakan) yang menyatakan sah berqurban untuk orang yang sudah meninggal meskipun sebelumnya tidak ada wasiat, karena berqurban untuk orang yang sudah meninggal adalah salah satu jenis sedekah, sedangkan sedekah itu diperkenankan atas nama orang yang sudah meninggal serta bermanfaat untuknya.
Nah! Ternyata dalam madzhab Imam Asy Syafi’i ada juga ya yang membolehkan berqurban untuk orang yang sudah meninggal, meskipun pendapat yang Mu’tamad, Allaahu A’lam adalah tidak diperkenankan (tidak sah).
Dalam kitab مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج juz 7 halaman 140 terbitan Syirkatul Quds dijelaskan :
ولا تَضْحِيَةَ (عَنْ مَيِّتٍ لَمْ يُوصِ بِهَا) لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلا مَا سَعَى} [النجم: ٣٩]
فَإِنْ أَوْصَى بِهَا جَازَ، فَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُد وَالْبَيْهَقِيِّ وَالْحَاكِمِ «أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ كَان َيُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ عَنْ نَفْسِهِ وَكَبْشَيْنِ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَقَالَ: إنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَمَرَنِي أَنْ أُضَحِّيَ عَنْهُ، فَأَنَا أُضَحِّي عَنْهُ أَبَدًا» ، لَكِنَّهُ مِنْ رِوَايَةِ شَرِيكٍ الْقَاضِي وَهُوَ ضَعِيفٌ
Dan tidak boleh berqurban untuk orang yang sudah meninggal yang sebelumnya tidak memberikan wasiat berdasarkan firman Allah dan seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (QS An Najm ayat 39).
Dan jika orang yang sudah meninggal tersebut telah berwasiat sebelum wafatnya maka boleh berqurban atasnya, di dalam Sunan Abu Daud, Al Baihaqy, dan Al Hakim sesungguhnya Ali bin Abi Thalib berqurban dengan dua domba untuk dirinya sendiri dan dua domba untuk Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم , dan Ali berkata sesungguhnya Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم memerintahkan ku untuk berqurban untuknya, maka aku berqurban untuknya selama-lamanya, akan tetapi itu berasal dari riwayat Qadhi Syarik yang dhoif.
وَقَدَّمْنَا أَنَّهُ إذَا ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ يَجِبُ عَلَيْهِ التصدقبجمیعها، وَقِيلَ تَصِحُّ التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ وإن لم یوص بها؛ لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ، وَهِيَ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُهُ، وَتَقَدَّمَ فِي الْوَصَايَا أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ السَّرَّاجَ النَّيْسَابُورِيَّ أَحَدَ أَشْيَاخِ الْبُخَارِيِّ خَتَمَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَكْثَرَ مِنْ عَشْرَةِ آلَافِ خَتْمَةً وَضَحَّى عَنْهُ بِمِثْلِ ذَلِك
Dan telah kita singgung sebelumnya bahwa jika seseorang berqurban untuk orang lain (semisal untuk orang yang sudah meninggal, di halaman 134) maka wajib hukumnya untuk menyedekahkan semua qurban itu. Dan dikatakan juga (قيل) bahwa sah berqurban untuk orang yang sudah meninggal meskipun sebelumnya tidak memberikan wasiat, karena itu termasuk sedekah, dan sedekah itu sah atas nama orang yang sudah meninggal serta bermanfaat untuknya. Dan telah lewat penjelasan dalam bab wasiat bahwa Muhammad bin Ishaq as Siraj An Naisaburiy salah seorang guru Imam Al Bukhari mengkhatamkan Al Quran untuk Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم lebih dari puluhan ribu kali serta berqurban untuknya sebanyak itu pula!
Allaahu Akbar!
Demikianlah pendapat dalam madzhab Imam Asy Syafi’i yang dikemukakan Fuqaha Asy Syafi’iyyah terkait berqurban untuk orang yang sudah meninggal yang intinya sah jika memang ada wasiat sebelumnya dari orang yang meninggal tersebut, sedangkan jika tidak ada wasiat maka tidak sah, meskipun ada pendapat juga dalam madzhab yang menyatakan sah.
Nasihat bagi kita semua, jika orang tua kita dulu tidak sempat berwasiat, jangan berkecil hati atau merasa bakti kita terputus. Ada solusi yang sangat indah dan disepakati kebolehannya: Berkurbanlah atas nama diri Anda sendiri, lalu niatkan atau hadiahkan pahalanya untuk orang tua Anda. Langkah ini jauh lebih aman, keluar dari khilafiyah ulama, dan pahala sedekahnya tetap mengalir serta bermanfaat untuk mereka.
Mari kita jadikan momen Idul Adha ini untuk memperdalam literasi fikih kita, agar semangat beramal kita selalu dibimbing oleh ilmu yang jernih. Semoga Allah Ta’ala mengampuni orang tua kita yang telah wafat dan menerima setiap ikhtiar ibadah kita.
والله أعلم
_____
Dirangkum oleh: Yurifa Iqbal (alumni Ma’had Darussalam Asy Syafii angkatan 3)
Murajaah: Al-Ustadz Abu Husein Agus Waluyo – Mudir Ma’had Darussalam Asy-Syafi’i.
____
Jadikan ilmu syar’i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi’i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis
Yuk Segera Follow & Pantau Media Kami:
Website: darussalam.or.id
Facebook: fb.me/darussalam.or.id
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id
YouTube: youtube.com/mahaddarussalam
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam
