Circle Pertemananmu adalah Pewarna Cerita Hidupmu

CUMA BERTEMAN SAJA KOK KAMU PILIH-PILIH SIH ?! Karena circlemu adalah pewarna cerita hidupmu..

Di era sekarang, istilah circle atau lingkungan pertemanan sering banget dibahas. Nggak cuma soal seru-seruan saja, tapi ternyata siapa yang kita pilih jadi teman punya pengaruh besar terhadap cara kita ngomong, berpikir, bersikap, bahkan terhadap kualitas iman kita.

Dalam Islam, perkara ini bukan hal sepele akan tetapi justru termasuk faktor penting yang bisa mengangkat harkat atau menjatuhkan martabat seseorang. Bahkan lebih ngeri lagi pertemanan bisa menjadi jalan menuju surga atau sebaliknya menjadi sebab terjerumus ke dalam neraka.

Penyesalan Karena Salah Memilih Teman

Allah ﷻ berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا ۝٢٧يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا ۝٢٨لَقَدْ اَضَلَّنِيْ عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ اِذْ جَاۤءَنِيْۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِلْاِنْسَانِ خَذُوْلًا ۝٢٩

“Dan (ingatlah) hari ketika orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata: “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Celakalah aku, seandainya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman karibku. Sungguh dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an ketika ia telah datang kepadaku. Dan setan itu adalah (makhluk) yang sangat enggan menolong manusia.””📖 (QS. Al-Furqan: 27–29)

Ayat ini menggambarkan penyesalan yang dalam gara-gara salah pilih teman. Yang dulunya terasa ‘asyik’ dan menyenangkan, ternyata justru menjauhkan dari kebenaran dan ketaatan bahkan malah menggiring kepada kemaksiatan dan kesesatan.

Teman Itu Seperti Penjual Parfum atau Pandai Besi

Dalam salah satu hadits yang cukup populer dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنِّما مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ ، وجَلِيسِ السُّوءِ ، كَحامِلِ المِسْكِ ، ونافِخِ الكِيرِ

 “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan pandai besi…”(HR. Bukhari: 2101 dan Muslim: 2628)

Adapun lanjutan dari potongan hadits diatas menjelaskan bahwa:

  • Teman yang baik minimal kita akan dapat “harum”-nya (ilmu, akhlak, vibes positif)
  • Teman yang buruk bisa membuat kita “terbakar” (celaka) atau setidaknya bakal kena asapnya (dampak buruk).

Bahasa simpelnya: “Teman itu menular”

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari hadits ini:

وَفِي الْحَدِيثِ النَّهْيُ عَنْ مُجَالَسَةِ مَنْ يُتَأَذَّى بِمُجَالَسَتِهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَالتَّرْغِيبُ فِي مُجَالَسَةِ مِنْ يُنْتَفَعُ بِمُجَالَسَتِهِ فِيهِمَا

Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga memberikan motivasi agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.(Fathul Bari 4 :323 – Syamilah)

Imam An-Nawawi mensyarah hadits ini:

فِيهِ تَمْثِيلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَلِيسَ الصَّالِحَ بِحَامِلِ الْمِسْكِ وَالْجَلِيسَ السُّوءِ بِنَافِخِ الْكِيرِ وَفِيهِ فَضِيلَةُ مُجَالَسَةِ الصَّالِحِينَ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالْمُرُوءَةِ وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَالْوَرَعِ وَالْعِلْمِ وَالْأَدَبِ وَالنَّهْيُ عَنْ مُجَالَسَةِ أَهْلِ الشَّرِّ وَأَهْلِ الْبِدَعِ وَمَنْ يَغْتَابُ النَّاسَ أَوْ يَكْثُرُ فُجْرُهُ وَبَطَالَتُهُ وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنَ الْأَنْوَاعِ الْمَذْمُومَةِ

Dalam hadits ini terdapat permisalan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:  Teman yang shalih dengan seorang penjual minyak wangi dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan berbudi luhur, berintegritas dan memiliki akhlak mulia, sikap wara’, ilmu dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, tukang ghibah, banyak berbuat dosa dan bermalas-malasan, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.(Syarh Nawawi ‘Ala Shahih Muslim 16/178 – Syamilah)

Agama Seseorang Mengikuti Temannya

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

الْمَرْءُ عَلَىٰ دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

 “Agama seseorang itu mengikuti teman dekatnya, maka hendaknya masing-masing kalian memperhatikan dengan siapa dia berteman dekat”(Hadits Shahih HR. Abu Dawud no. 4833, Tirmidzi no. 2378 – dorar.net)

Ini bukan sekadar retorika, ini adalah realita dan sudah banyak buktinya bertebaran di sekitar kita. Seiring berjalannya waktu kita akan jadi “versi campuran” dari pengaruh orang-orang terdekat kita.

Kalau kita tarik ke kehidupan sekarang:

  1. Circle yang hobi maksiat → suka ngajak santai dan _having fun_ tapi menjauhkan dari Allah
  2. Circle yang ambisinya hanya keduniaan isinya duit melulu → membuat lupa tujuan akhirat
  3. Circle yang shalih → saling mengingatkan saat berbuat salah, orientasi kehidupan akhirat, pokoknya vibes positif.

 Semua bisa terbentuk dari lingkungan. Bahkan bisa merembet lebih besar mempengaruhi agama dan keimanan secara perlahan.

✍️ Tips untuk memilih teman di masa sekarang

Bukan berarti harus langsung ninggalin semua teman, karena di masa sekarang ini teman yang shalih termasuk makhluk yang langka. Tapi kita bisa mulai dengan:

  1. Dekatkan diri dengan orang yang ingat Allah dan taat.
  2. Pilih teman yang bikin kita naik level dalam kebaikan, bukan yang stagnan atau merosot.
  3. Kurangi intensitas dengan yang vibes-nya jelas-jelas ke arah negatif.
  4. Jadikanlah dirimu sebagai seorang teman yang baik dan shalih karena bisa jadi circle-mu butuh kamu agar mereka bisa berubah jadi baik.
  5. Jangan ragu untuk meninggalkan teman toxic, yang jelas menyeretmu ke dalam keburukan.

 🌿 Teman itu bukan sekadar “siapa yang ada saat senang”, tapi siapa yang bisa membantu kita untuk tetap berada dalam kebaikan di jalan Allah.

Karena pada akhirnya, bukan cuma soal “serunya nongkrong bareng” tetapi lebih ke arah “di manakah kita akan dikumpulkan bersama mereka di akhirat nanti”

Semoga Allah memberikan kita teman-teman yang shalih, yang saling menguatkan dalam kebaikan, dan menjauhkan kita dari pergaulan yang buruk merusak. Aamiin.

Wallahua’lam bishowwab. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad.

 

____

Dirangkum oleh: Susilo (Santri Ma’had Darussalam Angkatan – 4)
Muroja’ah: Ustadz Abu Husein Agus Waluyo (Mudir Ma’had Darussalam Asy-Syafi’i)

____

Jadikan ilmu syar’i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi’i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis

Yuk Segera Follow & Pantau Media Kami:

Website: darussalam.or.id
Facebook: fb.me/darussalam.or.id
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam 

Menimba Ilmu Syar’i, Meniti Jejak Syafi’iyyah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *