Dalam pembahasan fiqih muamalat terdapat satu bahasan ketika ada seseorang menghibahkan sesuatu yang wujudnya belum ada atau bahkan tidak ada saat akad kepada orang lain atau tidak diketahui kadar ukurannya sehingga wajar disebut majhul. Tentu saja pembahasan ini ada di dalam bab Hibah.
Gambaran kasus misalnya sebagai berikut: Badrun menghibahkan buah-buah kurma miliknya yang akan berbuah pada tahun ini kepada Amar, atau menghibahkan anak-anak kambing miliknya yang akan lahir di tahun ini kepada Amar, atau Badrun mengatakan kepada Amar saya akan menghibahkan sesuatu padamu. Pada dua gambaran pertama objek yang akan dihibahkan wujudnya belum ada ketika kedua belah pihak melakukan akad hibah. Sedangkan pada gambaran ketiga objek yang dihibahkan tidak diketahui jenis, kadar ukuran, dan sifatnya sehingga betul-betul majhul.
Para ulama fiqih (baca fuqaha) berbeda pandangan berkaitan dengan pembahasan ini. Ringkasnya menurut jumhur fuqaha dari madzhab Hanafiyah, Syafi’iyah, Hanabilah akad hibah majhul semacam itu tidak sah. Adapun bagi fuqaha madzhab Malikiyah akad hibah majhul tersebut tetap dihukumi sah.
Berikut Nukilannya Dari Masing-Masing Madzhab.
Madzhab Hanafiyah, di dalam kitab بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع juz 6 halaman 119 disampaikan:
(وأما) ما يرجع إلى الموهوب فأنواع
Adapun yang berkaitan dengan objek yang akan dihibahkan maka ada beberapa syarat diantaranya:
(منها) أن يكون موجودا وقت الهبة فلا تجوز هبة ما ليس بموجود وقت العقد بأن وهب ما يثمر نخله العام وما تلد أغنامه السنة ونحو ذلك بخلاف الوصية والفرق أن الهبة تمليك للحال وتمليك المعدوم محال والوصية تمليك مضاف إلى ما بعد الموت والإضافة لا تمنع جوازها
objek yang dihibahkan wujudnya harus ada saat akad hibah, maka tidak boleh menghibahkan sesuatu yang wujudnya tidak ada saat akad hibah, gambarannya seseorang menghibahkan buah-buah kurma miliknya yang akan berbuah pada tahun ini, atau menghibahkan anak-anak kambing miliknya yang akan lahir di tahun ini pada orang lain, serta yang semisal dengan itu, lain halnya dengan Wasiat. Titik perbedaannya adalah karena hibah adalah akad tamlik pemindahan kepemilikan seketika itu juga sedangkan pemindahan kepemilikan sesuatu yang wujudnya belum ada adalah hal yang tidak mungkin dan sia-sia. Adapun wasiat adalah akad tamlik pemindahan kepemilikan yang dilakukan setelah kematian dimana pemindahan kepemilikan setelah kematian ini menunjukkan bolehnya wasiat.
Madzhab Syafi’iyah, di dalam kitab إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين juz 3 halaman 174 disampaikan:
فلا تصح هبة المجهول كبيعه
Akad hibah majhul tidak sah sebagaimana juga tidak sah akad jual beli objek yang majhul.
(قوله: فلا تصح هبة المجهول) أي كوهبتك أحد العبدين أو الثوبين، وقوله كبيعه، أي كعدم صحة بيعه، أي المجهول
Akad hibah majhul dihukumi tidak sah, contohnya seseorang berkata saya hibahkan kepadamu salah satu dari dua budak ini, atau saya hibahkan kepadamu salah satu dari dua pakaian ini. Sebagaimana akad jual beli objek yang majhul juga dihukumi tidak sah.
Madzhab Hanabilah, di dalam kitab الروض المربع شرح زاد المستقنع halaman 460 disampaikan:
(ولا يصح) أن يهب (مجهولا) كالحمل في البطن واللبن في الضرع، (إلا ما تعذر علمه)، كما لو اختلط مال اثنين على وجه لا يتميز فوهب أحدهما لرفيقه نصيبه منه، فيصح للحاجة
Akad hibah majhul dihukumi tidak sah, misalnya hibah janin yang ada dalam kandungan hewan atau hibah susu yang ada dalam kantong kelenjar susu hewan, kecuali jika objek yang dihibahkan sulit dan tidak memungkinkan untuk diketahui lagi contoh jika harta yang dimiliki dua orang bercampur yang mengakibatkan kepemilikan keduanya sudah tidak bisa lagi dibedakan satu sama lain, sehingga ketika salah satu dari kedua orang tersebut menghibahkan bagian hartanya yang sudah tercampur tadi kepada sahabatnya, maka akad hibah dihukumi sah karena ada hajat kebutuhan.
Madzhab Malikiyah, di dalam kitab بداية المجتهد ونهاية المقتصد juz 4 halaman 114 disampaikan:
ولا خلاف في المذهب في جواز هبة المجهول والمعدوم المتوقع الوجود
Tidak ada perbedaan pandangan di dalam internal madzhab Imam Malik akan boleh dan sahnya hibah majhul serta hibah yang saat ini objeknya belum ada akan tetapi di masa depan dimungkinkan wujudnya.
Kesimpulannya, hibah majhul ini tidak sah berdasarkan pandangan fuqaha madzhab Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Sedangkan bagi fuqaha madzhab Malikiyah hibah majhul tersebut tetap dihukumi sah.
Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.
والله تعالى أعلم بالصواب
Dirangkum oleh: Yurifa Iqbal (alumni Ma’had Darussalam Asy Syafii angkatan 3)
Murajaah: Al-Ustadz Abu Husein Agus Waluyo – Mudir Ma’had Darussalam Asy-Syafi’i
____
Jadikan ilmu syar’i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi’i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis
Yuk Segera Follow & Pantau Media Kami:
Website: darussalam.or.id
Facebook: fb.me/darussalam.or.id
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id
YouTube: youtube.com/mahaddarussalam
WhatsApp: chat.whatsapp.com/F5udYkGAB10KWmOTfbbI4h
