Teori Aqal Ma Qila (القول بأقل ما قيل) dalam Ushul Fiqh beserta Contohnya

Secara ringkas yang dimaksud dengan teori Aqal Ma Qila dalam disiplin ilmu Ushul Fiqh adalah ketika berbedanya pandangan para sahabat Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam suatu perkara yang memuat kadar ukuran tertentu, maka yang diambil adalah kadar ukuran paling sedikit atau paling kecil, dengan catatan jika tidak terdapat dalil yang menunjukkan akan adanya tambahan ukuran.

Para ulama berbeda pandangan apakah teori ini teranggap sebagai dalil atau tidak. Diantara ulama yang mengambil konsep ini sebagai dalil adalah Imam Asy Syafi’i – رضي الله عنه, semoga Allah meridhoinya -.

Di dalam kitab Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah juz 6 halaman 93 disampaikan:

اختلف الأصوليون في الأخذ بأقل ما قيل، هل يعتبر دليلا يعتمد في إثبات الحكم؟ فأثبته الإمام الشافعي، والباقلاني من المالكية

Para ulama berbeda pandangan terkait diadopsinya teori Aqal Ma Qila ini yakni apakah teori ini teranggap dalil dalam rangka penetapan hukum syari’ah? Imam Asy Syafi’i dan Imam Al Baqilani dari madzhab Malikiyah berdalil dengan teori Aqal Ma Qila ini dalam penetapan hukum syari’ah.

Sedangkan contoh teori Aqal Ma Qila ini dapat kita jumpai diantaranya dalam kitab Bughyatul Musytaq Fi Syarhil Luma Li Abi Ishaq pada halaman 353 – 354 penerbit Dar Ibn Katsir, disampaikan dalam kitab tersebut:

وذلك مثل اختلافهم في دية اليهودي والنصراني. فمنهم من قال (وهم الحنفية) : تجب فيه دية مسلم. ومنهم من قال (وهم المالكية) : تجب فيه نصف دية مسلم. ومنهم من قال: تجب فيه ثلث دية مسلم. وهذا القول اختاره الإمام الشافعي لأن ثلث الدية أقل ما قيل في المسألة

Contoh teori Aqal Ma Qila ini adalah perbedaan pandangan para sahabat Rasulullah Muhammad (shallallahu alaihi wasallam) dalam penetapan diat yang mesti ditunaikan muslim karena menghilangkan nyawa pria Yahudi dan Nasrani. Ulama Hanafiyah berpandangan diatnya adalah seperti diat membunuh seorang Muslim (100 ekor unta), adapun ulama Malikiyah berpandangan bahwa diat yang harus ditunaikan adalah setengah dari diat membunuh seorang Muslim (50 ekor unta). Terakhir ada ulama yang berpandangan bahwa diat yang mesti ditunaikan adalah sepertiga dari diat membunuh seorang Muslim (1/3 dari 100). Pandangan ketiga ini merupakan pilihan pendapat Imam Asy Syafi’i karena sepertiga diat adalah penerapan teori Aqal Ma Qila dalam kasus ini.

Lalu Apa Dasar Argumentasi Dari Teori Aqal Ma Qila Dalam Pandangan Syafi’iyah Ini?

Masih dalam kitab Bughyatul Musytaq Fi Syarhil Luma Li Abi Ishaq pada halaman 354 disampaikan:

من جهة استصحاب الحال في براءة الذمة وهو أن يقول الأصل براءة الذمة إلا فيما دل الدليل عليه من جهة الشرع، وقد دل الدليل على اشتغال ذمته بثلث الدية وهو الإجماع وما زاد عليه باق على براءة الذمة فلا يجوز إيجابه إلا بدليل

Argumentasi pertama adalah mempertahankan hukum asal dimana hukum asalnya terbebas dari kewajiban, maka dikatakan hukum asal manusia terbebas dari kewajiban kecuali ada dalil dari Syari’at, dan dalil menunjukkan bahwa tanggungan seorang mukallaf adalah 1/3 diat, karena 1/3 diat ini adalah Ijma konsensus kesepakatan, adapun yang lebih dari 1/3 maka kita pertahankan hukum asalnya yaitu tidak ada pembebanan kewajiban, SEHINGGA TIDAK BOLEH MEWAJIBKAN LEBIH DARI 1/3 KECUALI ADA DALIL!

أن يقول هذا القول متيقن وما زاد مشكوك فيه فلا يجوز إيجابه بالشك، فهذا لا يصح لأنه لا يجوز إيجاب الزيادة بالشك فلا يجوز أيضا إسقاط الزيادة بالشك

Argumentasi kedua adalah ukuran 1/3 diat itulah yang yakin, sedangkan lebih dari 1/3 itu masih meragukan, maka tidak boleh mewajibkan mukallaf dengan perkara yang diragukan, ini tidak diperkenankan karena tidak boleh mewajibkan ada tambahan lebih dari sepertiga dengan keraguan-raguan, demikian pula tidak boleh menghilangkan tambahan dengan keraguan.

Jadi sebenarnya argumentasi pertama dan kedua tersebut ujungnya tetap sama yaitu kadar ukuran 1/3 (sepertiga).

Berkaitan dengan kadar ukuran sepertiga ini adalah Ijma konsensus kesepakatan ulama juga dapat kita jumpai di kitab ulama Syafi’iyah lainnya. Imam Saifuddin Al Amidi menyampaikan:

فوجوب الثلث مجمع عليه، ولا خلاف فيه، وأما نفي الزيادة فغير مجمع عليه

Maka wajibnya diat 1/3 dalam kasus ini merupakan suatu Ijma konsensus kesepakatan tidak ada perbedaan pandangan diantara ulama, sedangkan menghilangkan tambahan ukuran adalah hal yang tidak disepakati ulama.(Al Ihkam Fi Ushulil Ahkam juz 1 halaman 281)

Diat sendiri maknanya sebagaimana keterangan dari Imam Syamsuddin Ar Ramli adalah,

وهي المال الواجب بالجناية على الحر في نفس أو فيما دونها

sejumlah harta tertentu yang wajib ditunaikan oleh orang yang merdeka disebabkan melakukan kriminal kepada jiwa atau kriminal kepada selain jiwa misalnya merusak fungsi anggota tubuh.(Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj juz 7 halaman 315)

Kesimpulannya, teori Aqal Ma Qila ini teranggap sebagai dalil dalam rangka penetapan hukum syari’ah menurut Imam Syafi’i. Contohnya adalah diat yang harus ditunaikan karena menghilangkan nyawa pria Yahudi dan Nasrani adalah sepertiga dari diat seorang Muslim yakni 1/3 dari 100 ekor unta.

Demikianlah pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.

والله تعالى أعلم بالصواب
Ditulis oleh: Yurifa Iqbal (alumni Ma’had Darussalam Asy Syafi’i angkatan 3)
Murajaah: Al-Ustadz Agus Waluyo Abu Husain (Mudir Ma’had Darussalam Asy-Syafi’i)

____
Jadikan ilmu syar’i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi’i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis

Yuk Segera Follow & Pantau Media Kami:
Website: darussalam.or.id
Facebook: fb.me/darussalam.or.id
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *