“Sayyidina” dalam Pandangan Syekh Bin Baz

Penggunaan sayyidina ketika menyebut nama nabi khususnya ketika shalawat terkadang menjadi hal mengganjal bagi sebagian saudara muslim kita. Bahkan sebagian menganggap penyebutan sayyidina sebagai ciri identitas kelompok tertentu mana kala dalam khutbahnya menyebut sayyidina tatkala bershalawat kepada nabi.

Apakah menyebut sayyidina ketika bershalawat itu bermasalah?

Dalam pandangan Syekh Bin Baz rahimahullah, menambahkan lafaz sayyidina pada nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengapa kecuali dalam ibadah tertentu yang terdapat dalil khusus tanpa ada penyebutan lafaz tersebut. Beliau menjelaskan, 

ولا بأس ولا حرج في أن يقول الإنساناللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه، هذا كله لا حرج فيه، إلا في المواضع التي شرع الله فيها تمحيض اسمه، وعدم ذكر السيد فيها؛ فإنه لا يأتي بالسيد فيها، مثل التحيات،  

… Tidak mengapa seorang mengucapkan ‘allahumma sholli wa sallim ala sayyidina Muhammadin ..’. Ini semua tidak mengapa kecuali dalam kondisi yang Allah syariatkan secara khusus penyebutan nama nabi saja tanpa tambahan sayyid, maka tidak boleh menambahkan sayyid pada kondisi tersebut. Contohnya dalam masalah tahiyyat.. 

Adzan

Contoh lainnya yang beliau sampaikan adalah ketika adzan. Karena dalil-dalil tentang adzan tidak menyebutkan adanya tambahan sayyidina, maka menurut pandangan beliau tidak boleh ada tambahan sayyidina sebagaimana dalam masalah tahiyyat.

Khutbah Jumat

Adapun dalam hal lainnya, semisal dalam khutbah jumat, menambah lafaz sayyidina tidaklah mengapa. Beliau menjelaskan, 

أما في المواضع الأخرىمثل الخطبة في الجمعة، وفي الأعياد لا بأس، الأمر فيه موسع أو الخطبة في المحاضرات والمؤلفات، كل هذا لا بأس به؛ لأنه حق، لأنه سيد ولد آدم –عليه الصلاة والسلام-. 

Adapun dalam kondisi lainnya semisal khutbah jumat dan hari raya, atau dalam mukaddimah ceramah-ceramah dan tulisan-tulisan, maka tidak mengapa. Perkaranya luas dalam masalah ini. Semua ini tidak mengapa karena beliau benar-benar sayyid (tuannya) manusia -alaihis sholatu was salamu- 

Pelajaran: 

  1. Bukanlah sebuah aib ketika seorang menambah lafaz sayyidina saat menyebut nama nabi di khutbah, ceramah, atau yang lainnya. 
  2. Jika dalam ibadah kondisi khusus sebagaimana yang beliau contohkan, maka tidak boleh menambah sayyidina ketika ada penyebutan nama nabi. Hal ini ada perbedaan pandangan dari sebagian ulama madzhab Syafi’i, Maliki, dan Hanafi yang menganjurkan siyadah (sayyidina) ketika membaca shalawat di tasyahud. Sebagaimana dalam penjalasan berikut ini, 

وَأَمَّا بِخُصُوصِ زِيَادَةِ (سَيِّدِنَافِي الصَّلاَةِ الإِْبْرَاهِيمِيَّةِ بَعْدَ التَّشَهُّدِ، فَقَدْ ذَهَبَ إِلَى اسْتِحْبَابِ ذَلِكَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ الْمُتَأَخِّرِينَ كَالْعِزِّ بْنِ عَبْدِ السَّلاَمِ وَالرَّمْلِيِّ وَالْقَلْيُوبِيِّ وَالشَّرْقَاوِيِّ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَصْكَفِيِّ وَابْنِ عَابِدِينَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ مُتَابَعَةً لِلرَّمْلِي الشَّافِعِيِّ، كَمَا صَرَّحَ بِاسْتِحْبَابِهِ النَّفَرَاوِيُّ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ 

وَقَالُواإِنَّ ذَلِكَ مِنْ قَبِيل الأَْدَبِ، وَرِعَايَةُ الأَْدَبِ خَيْرٌ مِنَ الاِمْتِثَال، كَمَا قَال الْعِزُّ بْنُ عَبْدِ السَّلاَمِ 

(الموسوعة الفقهية الكويتية ١١/٣٤٦) 

“Terkhusus masalah tambahan ‘sayyidina’ dalam shalawat Ibrahimiyyah setelah tasyahhud, maka ada sebagian ulama muta`akhirin madzhab syafi’i seperti al-Izz bin Abdi as-Salam, ar-Ramli, al-Qolyudbi, asy-Syarqawi, lalu al-Hashkafi dan Ibnu Abidin dari Madzhab Hanafi mengikuti imam ar-Ramli asy-Syafi’i yang menganjurkan hal tersebut. Sebagaimana ditegaskan pula dianjurkannya hal tersebut oleh an-Nafarawiy dari ulama madzhab Maliki. Mereka mengatakan: sesungguhnya dianjurkan hal tersebut dari sisi adab kepada Nabi karena ada kaidah yaitu memperhatikan adab kepada nabi lebih baik dari imtitsal (mengikuti nabi) sebagaimana disebutkan oleh al-Izz bin Abdi as-Salam”
(Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 11/346) 

Allahu a’laam 

____ 

Disusun Oleh: Mochamad Rido Rizki Ahad (Santri Mahad Darussalam Angkatan ke-3)
Muraja’ah: Ust. Agus Waluyo حفظه الله 

Sumber kutipan Syekh bin Baz: https://binbaz.org.sa 

____ 

Jadikan ilmu syar’i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi’i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dengan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis 

 

Yuk Segera Follow & Pantau Media Kami: 

Website: darussalam.or.id
Facebook: fb.me/darussalam.or.id
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *